JAKARTA — Kemnaker melalui Polteknaker dan PT Huawei Tech Investment sepakat berkolaborasi dalam tiga bidang utama: pendidikan dan pengajaran, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta pemberdayaan tenaga kerja. Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman yang ditandatangani kedua pihak pada 23 April 2025.
Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, menegaskan bahwa perjanjian ini bukan sekadar seremoni. "Ini merupakan tindak lanjut operasional dari kesepahaman yang telah dibangun antara Kemnaker dan Huawei," ujarnya dalam keterangan resmi.
Dalam bidang pendidikan, Huawei akan mengirimkan praktisi sebagai dosen tamu untuk kuliah umum dan seminar. Kurikulum di Polteknaker juga akan diselaraskan dengan kebutuhan industri, termasuk penyediaan sarana praktik bagi mahasiswa.
Untuk pengembangan kompetensi, tersedia program Training to Trainer dari ICT Academy. Program ini memungkinkan dosen memperbarui pengetahuan tentang teknologi terkini, lalu mentransfernya ke mahasiswa. "Ilmu yang diajarkan tidak boleh berhenti di ruang kelas," kata Cris.
Di sisi pemberdayaan SDM, Huawei akan membuka kesempatan magang, menyediakan informasi lowongan kerja, dan menggelar campus hiring yang mempertemukan talenta muda dengan perusahaan.
Seluruh program studi di Polteknaker akan merasakan dampak kerja sama ini. Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) akan mendapat wawasan tentang keselamatan kerja di era digital. Mahasiswa Relasi Industri bisa memahami hubungan industrial modern. Sementara mahasiswa Manajemen SDM akan belajar pengelolaan talenta kelas dunia.
Polteknaker merupakan satu-satunya perguruan tinggi vokasi di bawah Kemnaker. Kampus ini mengemban mandat menyiapkan SDM kompeten di bidang ketenagakerjaan melalui tiga program studi tersebut.
Cris menekankan bahwa pendidikan vokasi harus terhubung dengan praktik nyata di industri. "Kami ingin menjadi jembatan antara kampus dan industri, dan kemitraan dengan Huawei merupakan salah satu wujud nyata dari upaya tersebut," ujarnya.
Menurut Cris, seluruh upaya pengembangan kompetensi bermuara pada peningkatan kualitas manusia Indonesia. Pembangunan SDM harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. "Kami tidak sekadar menyiapkan tenaga kerja, tetapi menyiapkan manusia agar dapat bekerja dengan bermartabat, aman, dan memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang," pungkasnya.