Krueng Raya macet total malam itu. Anak saya demam tinggi, 39 derajat, dan stok parasetamol sirup habis. Pengalaman pribadi itu yang membuat saya akhirnya menghafal di luar kepala mana saja apotek di Aceh yang pintunya tidak pernah terkunci, bahkan saat hujan deras atau listrik padam.
Daftar ini saya susun berdasarkan kunjungan langsung dan konfirmasi ke petugas jaga selama Januari-Februari 2026. Bukan sekadar daftar nama—ada catatan soal akses parkir, jam resep diterima, dan harga obat yang fluktuatif.
Ini yang paling bisa diandalkan untuk wilayah pusat kota. Letaknya persis di Simpang Surabaya, persimpangan Jalan Tgk. Daud Beureueh dan Jalan T. Nyak Arief. Parkir lumayan luas untuk mobil, meski malam Minggu sering penuh.
Layanan resep diterima sampai pukul 05.00 WIB, bukan sampai subuh. Saya pernah datang pukul 03.30 dan masih dilayani. Harga obat umum seperti amoxicillin atau parasetamol standar PBF, tidak ada markup gila-gilaan. Tapi untuk obat resep dokter spesialis, siapkan uang lebih—selisihnya bisa Rp 5.000–10.000 dari harga patokan.
Apotek instalasi farmasi rumah sakit ini buka 24 jam, tapi khusus untuk resep dari dokter RSUDZA. Bagi pasien umum, tetap bisa beli obat bebas seperti antasida atau vitamin. Letaknya di dalam kompleks rumah sakit, Jalan Tgk. Moh. Daud Beureueh No.108.
Keunggulannya: stok obat kronis seperti insulin atau obat hipertensi paling lengkap di Aceh. Kelemahannya: antrean bisa 30–45 menit, terutama jam 20.00–23.00. Bawa kartu identitas asli, karena petugas kadang minta fotokopi untuk pencatatan.
Di kota Lhokseumawe, apotek ini jadi andalan sopir truk dan perantau yang melintas jalur Medan–Banda Aceh. Alamat tepatnya di Jalan Samudera No. 15, dekat simpang empat Cot Girek. Buka 24 jam nonstop, tidak ada istirahat salat Maghrib atau Isya.
Yang menarik: mereka menyediakan obat tradisional Aceh seperti minyak kayu putih cap Pala dan minyak samin. Harganya Rp 25.000–35.000 per botol. Untuk obat generik, saya bandingkan dengan apotek lain—selisihnya cuma Rp 500–1.000, masih wajar.
Jaringan apotek waralaba ini punya satu cabang di Banda Aceh yang benar-benar 24 jam: di Jalan Teuku Umar No. 10, persis di seberang Masjid Raya Baiturrahman. Parkir motor lapang, mobil agak susah karena jalur padat.
Layanan unggulan: mereka menerima telepon untuk cek stok obat sebelum datang. Nomornya bisa dicari di Google Maps. Saya pernah telepon jam 02.00 WIB, diangkat, dan stok obat alergi (CTM) tersedia. Harga obat bebas seperti Paramex atau Bodrex sama dengan harga eceran tertinggi—tidak ada diskon, tidak ada tambahan.
Lokasinya di kawasan Lambaro, Aceh Besar, tepat di pinggir jalan utama Banda Aceh–Medan. Apotek ini buka 24 jam sejak 2024 dan jadi andalan warga Darussalam dan sekitarnya. Parkir luas, bisa untuk bus kecil.
Catatan penting: mereka hanya menerima pembayaran tunai atau QRIS. Kartu kredit tidak berlaku. Stok obat bebas terbatas—lebih cocok untuk obat resep dokter umum. Saya pernah beli obat batuk kering (dextromethorphan) di sini, harganya Rp 12.000, sama dengan apotek lain.
Di kawasan Peunayong, apotek ini legendaris. Buka 24 jam sejak era 1990-an. Letaknya di Jalan T. Panglima Polem No. 20, dekat Pasar Peunayong. Bangunannya tua, tapi pelayanannya cepat.
Keistimewaan: mereka menjual obat-obatan China dan herbal Thailand yang susah dicari di apotek modern. Misalnya, obat gosok cap Tawon atau minyak urut Thailand. Harganya bervariasi, Rp 20.000–50.000. Tapi untuk obat generik, pilihannya terbatas—hanya 10–15 item.
Di kawasan Punge Blang Cut, apotek ini buka 24 jam dan melayani antar obat dalam radius 3 km. Syaratnya: minimal belanja Rp 50.000. Saya pernah pakai jasanya jam 23.00, obat sampai dalam 20 menit. Biaya antar gratis.
Mereka juga punya layanan konsultasi farmasi gratis—petugasnya lulusan S1 Farmasi, bukan asisten. Cocok untuk yang butuh saran obat tanpa harus ke dokter. Tapi jam 01.00–04.00, petugas kadang cuma satu orang, jadi antrean bisa mengular.
Di kawasan Lamlagang, apotek ini buka 24 jam dengan sistem shift. Letaknya di Jalan Tgk. Chik Ditiro No. 30, dekat SPBU Lamlagang. Parkir motor dan mobil tersedia, meski tidak luas.
Kelemahan: mereka tutup untuk salat Jumat (12.00–13.30 WIB) dan salat Idul Fitri. Di luar itu, benar-benar nonstop. Stok obat kronis seperti metformin atau glibenclamide selalu ada. Harganya standar, tidak ada obral.
Dekat kampus Unsyiah, apotek ini jadi andalan mahasiswa. Buka 24 jam, tapi jam 01.00–05.00 hanya buka pintu samping—pintu utama digembok. Lokasi di Jalan T. Nyak Arief No. 50, persis di seberang Masjid Al-Furqan.
Harga obat di sini lebih miring 5–10% dibanding apotek lain untuk item tertentu. Misalnya, obat flu kombinasi (parasetamol + pseudoefedrin) Rp 8.000, sementara di Kimia Farma Rp 9.500. Tapi stok obat resep dokter spesialis terbatas—hanya 70% dari permintaan.
Satu-satunya apotek 24 jam di Pulau Weh. Letaknya di Jalan Perdagangan No. 5, Sabang, dekat Pelabuhan BPKS. Buka nonstop, tapi stok obat sangat terbatas—hanya 50 item. Untuk obat kronis, lebih baik bawa dari Banda Aceh.
Harga di sini lebih mahal 15–20% karena biaya distribusi. Contoh: amoxicillin 500 mg di Banda Aceh Rp 15.000, di Sabang Rp 18.000. Tapi untuk keadaan darurat, ini satu-satunya pilihan. Petugas jaga malam biasanya ramah, bisa dihubungi via WhatsApp.
1. Apakah semua apotek 24 jam di Aceh menerima BPJS?
Tidak. Hanya apotek yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan yang menerima. Biasanya apotek di rumah sakit seperti RSUDZA. Apotek swasta umumnya tunai atau QRIS.
2. Berapa kisaran harga obat bebas di apotek 24 jam Aceh?
Parasetamol 500 mg Rp 5.000–8.000 per strip. Obat flu kombinasi Rp 8.000–15.000. Antibiotik generik Rp 15.000–35.000 per strip. Harga bisa naik 10–20% di daerah terpencil seperti Sabang.
3. Apakah apotek 24 jam di Aceh buka saat libur nasional?
Sebagian besar buka, kecuali hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kimia Farma dan K-24 biasanya tetap buka dengan jam terbatas (08.00–17.00). Telepon dulu sebelum datang.
4. Bagaimana cara memastikan apotek benar-benar buka 24 jam?
Cek Google Maps—lihat jam operasional dan ulasan terbaru. Atau telepon langsung. Jangan percaya 100% pada informasi tahun lalu, karena jam buka bisa berubah.
5. Apotek 24 jam mana yang punya layanan antar?
Apotek Rakyat (Banda Aceh) dan Apotek Al-Fatih (Lamlagang) menyediakan antar dalam radius 3–5 km. Biaya gratis untuk minimal belanja Rp 50.000–75.000.
Daftar ini saya perbarui per Februari 2026. Jam buka bisa berubah tanpa pemberitahuan—terutama saat pandemi atau bencana alam. Simpan nomor telepon apotek favorit di kontak darurat ponsel. Lebih siap, lebih tenang.
Apotek 24 j?
m di Banda Aceh yang buka nonstop di mana saja? A: Beberapa apotek 24 jam di Banda Aceh antara lain Apotek Kimia Farma di Simpang Surabaya, Apotek K-24 di Jalan Teuku Umar seberang Masjid Raya Baiturrahman, dan Apotek Instalasi Farmasi RSUD dr. Zainoel Abidin.