MEULABOH — Sejak jembatan gantung di kawasan Sikundo putus diterjang banjir bandang akhir November 2025, warga setempat terpaksa mempertaruhkan nyawa setiap kali menyeberang sungai. Mereka hanya mengandalkan seutas kawat baja sebagai pegangan. Sekarang, Polres Aceh Barat menghadirkan keranjang gantung sebagai alternatif penyeberangan darurat.
Selama lebih dari dua bulan, tak ada akses penyeberangan yang aman di kawasan Komunitas Adat Terpencil Sikundo. Anak-anak sekolah dan orang dewasa harus melintasi sling — kawat baja yang membentang di atas sungai. "Penyediaan sarana keranjang gantung ini nantinya diharapkan dapat membantu masyarakat dan pelajar, sehingga tidak lagi harus melintasi kawat baja (sling) sebagai akses penyeberangan," kata Kapolres Aceh Barat AKBP Agus Sulistianto dalam keterangan yang diterima ANTARA, Sabtu.
Keranjang gantung itu hanyalah solusi sementara. Polda Aceh berencana membangun jembatan gantung permanen di Sikundo dalam waktu dekat. Kapolres Agus berharap proyek itu segera terealisasi sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada sarana darurat yang tetap berisiko. Selama masa pembangunan, keranjang gantung akan menjadi andalan warga untuk menyeberang.
Banjir bandang yang melanda Aceh pada 26 November 2025 tidak hanya merusak jembatan di Sikundo. Bencana itu juga menghantam sejumlah kabupaten/kota, menyebabkan akses transportasi publik lumpuh di berbagai titik. Kerusakan jembatan gantung Sikundo menjadi salah satu yang paling parah, memutus akses satu-satunya warga pedalaman menuju pusat kecamatan.
Kapolres menekankan bahwa kehadiran jembatan permanen nantinya diharapkan memberikan rasa aman dan memperlancar akses transportasi masyarakat. "Selama proses pembangunan berlangsung, masyarakat akan memanfaatkan keranjang gantung sebagai akses penyeberangan sementara," jelasnya. Warga berharap pembangunan jembatan baru bisa segera dimulai agar mereka tak selamanya bergantung pada keranjang gantung yang terbatas kapasitasnya.