ACEH — Kerentanan ini ditemukan oleh tim peneliti keamanan siber dari University of California San Diego. Mereka mengidentifikasi bahwa sistem alarm buatan Karr Security Systems, yang dipasang oleh lebih dari 3.000 dealer di AS, memiliki celah pada komunikasi Bluetooth-nya. Eksploitasi celah ini memungkinkan pihak tak bertanggung jawab mengirim perintah berbahaya ke kendaraan target.
Dua Juta Unit Terdampak, Namun Banyak Pemilik Tak Tahu
Karr mengklaim teknologinya terpasang di sekitar dua juta mobil. Namun, tidak semua pemilik kendaraan ini secara sadar membeli atau berlangganan layanan alarm tersebut. Wired melaporkan, dealer kerap memasang perangkat Karr sebagai alat pelacak inventaris di area pameran. Saat mobil terjual, konsumen mungkin tidak menyadari perangkat itu masih tertinggal di kendaraan mereka.
Peneliti menyebut radio Bluetooth pada sistem Karr tetap aktif hingga 10 menit setelah mesin dimatikan. Kondisi ini memperlebar jendela peluang bagi peretas untuk melancarkan aksinya. Seorang profesor dari UC San Diego bahkan menyebut temuan ini sebagai "ancaman peretasan mobil terburuk" yang pernah ada.
Perbaikan Butuh 18 Bulan, Karr Rilis Pembaruan Firmware
Karr telah merilis pembaruan firmware untuk menambal celah keamanan ini. Pembaruan bisa diinstal melalui aplikasi ponsel pendamping yang bisa diunduh siapa saja, baik pelanggan berbayar maupun bukan. Namun, proses perbaikan ini memakan waktu 18 bulan sejak temuan awal dilaporkan oleh para peneliti.
Juru bicara Karr menyatakan kepada Wired bahwa kerentanan tersebut "sangat kompleks dan berisiko rendah bagi pelanggan dalam kondisi dunia nyata." Meski begitu, perusahaan mengaku telah merespons dengan cepat dan mengembangkan pembaruan firmware. Para peneliti tidak sependapat dengan penilaian risiko rendah tersebut dan mendemonstrasikan kemudahan mengeksploitasi sistem yang belum diperbarui.
Cara Mengecek Apakah Mobil Terpasang Alarm Karr
Pemilik kendaraan bisa mengecek keberadaan sistem Karr dengan melihat stiker bertuliskan "Karr" atau "SWDS" pada kaca jendela sisi pengemudi. Jika ragu, langkah paling aman adalah bertanya langsung ke dealer tempat kendaraan dibeli. Para ahli menyarankan agar dealer diwajibkan secara hukum untuk melepas perangkat semacam ini saat mobil dijual, kecuali pembeli secara sadar memilih untuk membayar layanan pemantauan tersebut.
Kasus ini menyoroti masalah yang lebih besar dalam era kendaraan terhubung. Keberadaan perangkat keras tambahan yang tidak diinginkan dan tidak dibayar oleh pemilik justru membuka celah keamanan baru. Potensi penyalahgunaan oleh pihak jahat dinilai terlalu besar untuk diabaikan, dan dealer harus bertanggung jawab penuh atas risiko yang mereka ciptakan.