Nagan Raya Raih Penghargaan Pelestari Kuliner Tradisi di Aceh Culinary Festival 2026

Penulis: Faisal Hasbi  •  Minggu, 13 September 2026 | 07:31:01 WIB
Ketua TP PKK Nagan Raya Cut Inda TR Keumangan menerima penghargaan Kabupaten/Kota Pelestari Tradisi Kuliner pada pembukaan Aceh Culinary Festival 2026 di Banda Aceh, Jumat (11/9/2026).

BANDA ACEH — Penghargaan Kabupaten/Kota Pelestari Tradisi Kuliner diterima Nagan Raya dalam pembukaan Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Kota Banda Aceh, Jumat (11/9/2026). Cut Inda TR Keumangan selaku Ketua TP PKK Nagan Raya menerima langsung penghargaan dari Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir.

Pembukaan festival dilakukan Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang diwakili Plt Sekretaris Daerah Aceh Taufik. ACF 2026 mengusung tema "Celebrating the Authentic of Aceh Living Culinary Heritage" dan berlangsung hingga 14 September 2026.

Sembilan Kuliner Tradisional Nagan Raya Tampil di Anjungan

Anjungan Nagan Raya menampilkan sejumlah hidangan khas daerah, dari Gulee Jruek, Si Manok Bungong Kala, Reubong Engket Tho, hingga Nicah Oen Kayee. Ada pula Engket Tho, Boh Itek Jruek, Kerling, Anyang Oen Peutek, dan Acar Boh Timon.

Cut Inda menyebut keikutsertaan Nagan Raya sebagai kesempatan memperkenalkan kuliner tradisional kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

"Melalui anjungan Nagan Raya, kami ingin memperkenalkan berbagai kuliner tradisional yang menjadi warisan masyarakat Nagan Raya," ujarnya.

Kuliner sebagai Identitas Budaya, Bukan Sekadar Sajian

Menurut Cut Inda, hidangan yang ditampilkan bukan hanya soal rasa. Kuliner tradisional merepresentasikan tradisi dan identitas budaya masyarakat Nagan Raya.

"Keberadaan kuliner tradisional ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan identitas budaya yang harus terus kita lestarikan," katanya.

Ia berharap pelestarian kuliner tradisional berjalan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat, pelaku UMKM, generasi muda, dan pihak terkait.

"Kami berharap tradisi kuliner khas daerah ini tidak berhenti hanya pada kegiatan festival, tetapi terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan begitu, kuliner tradisional Nagan Raya tetap hidup, dikenal, dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

Jejak Perdagangan dan Perjumpaan Budaya dalam Masakan Aceh

Plt Sekda Aceh Taufik menilai kuliner tidak lepas dari identitas, sejarah, dan peradaban masyarakat. Menurutnya, makanan menjadi jejak perdagangan, perjumpaan antarbudaya, kekayaan alam, serta tradisi lintas generasi.

"Melalui makanan, kita dapat menelusuri jejak perdagangan, perjumpaan antarbudaya, kekayaan alam, serta tradisi yang diwarisi lintas generasi," ujarnya.

Posisi Aceh yang lama menjadi tempat persinggahan berbagai bangsa, lanjut Taufik, membentuk kekayaan kuliner daerah. Mulai dari penggunaan rempah, hasil laut dan pertanian, bahan pangan lokal, teknik memasak, sampai tradisi kenduri dan makan bersama.

Pemerintah Aceh mendorong warisan kuliner tersebut tetap dipraktikkan, dikembangkan, didokumentasikan, dan diwariskan ke generasi berikutnya.

"Kita ingin dunia tidak hanya mengenal rasa masakan Aceh, tetapi juga cerita di baliknya, tentang rempah, tradisi, sejarah, dan kehidupan masyarakat yang membentuknya," katanya.

ACF 2026 mempertemukan pelaku UMKM, gastronomi, budaya, dan ekonomi kreatif dalam satu ruang. Festival ini menjadi ajang memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan kuliner Aceh.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: infopublik.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top