Dangote Bangun Kilang Minyak US$ 16 Miliar di Kenya, Rampung 2030

Penulis: Faisal Hasbi  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 12:32:01 WIB
Aliko Dangote memulai pembangunan kilang minyak senilai US$ 16 miliar di Kenya yang ditargetkan rampung pada 2030.

ACEH — Aliko Dangote memulai pembangunan kilang minyak senilai US$ 16 miliar atau sekitar Rp 286,4 triliun di Kenya, ditargetkan rampung pada 2030. Proyek ini disebut-sebut sebagai upaya menekan biaya bahan bakar sekaligus memangkas ketergantungan Afrika Timur pada impor produk olahan minyak.

Peletakan batu pertama dilakukan Dangote bersama Presiden Kenya William Ruto. Lewat proyek ini, miliarder asal Nigeria itu ingin meniru kesuksesan kilang minyak milik grupnya di Nigeria yang berkapasitas 700.000 barel per hari. Ambisi itu muncul bersamaan dengan rencana sejumlah negara, termasuk Kenya dan Uganda, yang mulai memproduksi minyak mentah sendiri.

Skema Kepemilikan dan Kontrak Proyek

Dangote telah menawarkan kepemilikan gabungan sebesar 30% kepada pemerintah-pemerintah regional di kawasan tersebut. Saham perusahaan pengelola kilang nantinya juga akan tercatat di Bursa Nairobi.

Untuk tahap konstruksi, Dangote memberikan kontrak rekayasa senilai US$ 450 juta kepada Engineers India Limited. Sementara Honeywell Technologies akan menyediakan dukungan teknologi. Kilang ini juga akan ditopang pembangkit listrik berkapasitas 1.000 megawatt yang dibangun dalam kompleks yang sama, dengan kelebihan listriknya akan dijual kepada pelanggan lain.

Target Ekspor hingga Kemandirian Energi Kawasan

Dangote menyebut proyek ini akan menciptakan kemandirian energi di wilayah yang membentang dari Ethiopia hingga Mozambik. Kilang tersebut ditargetkan menggantikan impor produk olahan minyak yang selama ini membebani kawasan.

Selain untuk konsumsi domestik, kilang itu juga akan menargetkan ekspor bahan bakar jet ke pasar Eropa dan Inggris.

"Kami sedang membuka babak baru dalam perjalanan industrialisasi Afrika menuju masa depan yang lebih cerah," ujarnya dikutip dari Reuters.

Penolakan Warga dan Sengketa Hukum

Meski proyek ini digadang-gadang membawa manfaat besar, sejumlah kalangan masih meragukan pasokan minyak mentah lokal dan kesiapan infrastruktur energi di kawasan. Proyek itu juga menghadapi penolakan dari kelompok pemerhati lingkungan yang khawatir pembangunan berdampak pada Kota Tua Lamu, situs Warisan Dunia yang menjadi habitat kehidupan laut rentan.

Pengadilan Tinggi Kenya memerintahkan agar sebagian area situs tersebut dipertahankan sambil menunggu persidangan dalam perkara yang diajukan oleh warga setempat.

Menanggapi penolakan itu, Dangote menduga keberatan berasal dari para pedagang dan pelaku usaha yang model keuntungannya akan terancam oleh keberadaan kilang. Ia berjanji akan melawannya.

"Kami benar-benar tidak takut jika ada orang yang membawa kami ke pengadilan. Siapa pun yang ingin membuat masalah, kami siap menghadapi masalah itu dan kami akan membuatnya pusing," katanya.

Penutup: Jika terealisasi sesuai jadwal pada 2030, kilang ini akan menjadi salah satu investasi energi terbesar di Afrika Timur dan mengubah peta pasokan bahan bakar kawasan. Namun sengketa lahan di Lamu dan keraguan atas pasokan minyak mentah lokal masih menjadi ujian yang harus dilewati Dangote sebelum proyek ini benar-benar beroperasi.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top