ACEH — Neraca perdagangan migas Indonesia mencatat defisit USD 21,29 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026, sekitar 75 persen lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Defisit yang melebar ini menempatkan dukungan terhadap sektor hulu migas sebagai tumpuan utama untuk menahan laju impor.
Angka defisit itu bahkan telah melampaui total defisit sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit kumulatif perdagangan migas selama 2021–2025 mencapai USD 97,96 miliar per tahun. Artinya, dalam delapan bulan saja tahun ini, Indonesia sudah mencatat defisit lebih besar daripada setahun penuh sebelumnya.
Penyebab utamanya bukan hal baru: impor minyak mentah dan produk kilang untuk menutup kekurangan pasokan domestik yang mencapai sekitar 1,0–1,2 juta barel per hari (BOPD). Selama produksi dalam negeri belum menutup gap itu, impor akan terus menjadi katup pengaman — sekaligus sumber tekanan.
Impor migas menuntut valuta asing dalam jumlah besar. Ketika kebutuhan devisa untuk membayar impor meningkat, tekanan terhadap transaksi berjalan ikut menguat, dan rupiah menjadi rentan melemah.
Efek berantainya tidak berhenti di kurs. Pelemahan rupiah mendorong harga barang impor naik, termasuk bahan baku industri, yang pada akhirnya merambat ke inflasi domestik.
Simulasi ReforMiner pada 2026 memberi gambaran kuantitatifnya. Kenaikan Current Account Deficit (CAD) sebesar 10 persen berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi 0,1–0,2 persen. Sementara pelemahan rupiah 10 persen dapat memangkas pertumbuhan ekonomi 0,2–0,4 persen.
Karena akar masalahnya adalah kekurangan pasokan, solusi yang paling langsung adalah menaikkan produksi dalam negeri. Di sinilah dukungan terhadap sektor hulu migas menjadi tumpuan.
Tanpa penambahan produksi, defisit perdagangan migas akan terus berulang setiap tahun. Pemerintah pun menghadapi pilihan sulit: menambah impor dengan konsekuensi tekanan rupiah, atau mempercepat investasi hulu agar gap pasokan menyempit.
Sejumlah langkah yang lazim dibahas di industri mencakup percepatan pengeboran sumur eksplorasi, insentif fiskal bagi kontraktor kontrak kerja sama, serta optimalisasi sumur-sumur tua. Namun bahan yang tersedia belum memerinci kebijakan spesifik yang akan diambil tahun ini.
Bagi investor, angka defisit migas adalah sinyal yang perlu dicermati karena berkaitan langsung dengan stabilitas makro. Defisit yang melebar membatasi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter secara agresif, terutama jika rupiah sedang tertekan.
Di sisi lain, kebutuhan devisa untuk impor migas juga bersaing dengan kebutuhan pembiayaan lain, termasuk pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan investasi domestik.
Selama produksi hulu belum mampu menutup kekurangan 1,0–1,2 juta BOPD, defisit perdagangan migas akan tetap menjadi langganan. Dukungan terhadap sektor hulu bukan sekadar soal target produksi, melainkan soal menjaga rupiah dan daya tahan ekonomi secara keseluruhan.