Pencarian

Ekspor Udang ke Arab Saudi Picu Geliat Tambak Baru di Aceh Barat, Puluhan Hektare Lahan Disiapkan

Senin, 01 Juni 2026 • 13:04:02 WIB
Ekspor Udang ke Arab Saudi Picu Geliat Tambak Baru di Aceh Barat, Puluhan Hektare Lahan Disiapkan
Petambak Aceh Barat siapkan 50 hektare lahan baru untuk budidaya udang vaname ekspor ke Arab Saudi.

MEULABOH — Geliat ekonomi perikanan di Aceh Barat mulai terasa setelah adanya kepastian pasar ekspor ke Arab Saudi. Permintaan udang dari negara Timur Tengah itu mendorong para petambak dan investor untuk membuka lahan tambak baru di sejumlah kecamatan pesisir.

Kepastian pasar ekspor ini disebut menjadi pemicu utama perluasan area tambak. Sebelumnya, banyak lahan tambak di Aceh Barat yang tidak aktif karena harga udang lokal fluktuatif dan serapan pasar dalam negeri terbatas.

Berapa Luas Lahan Tambak Baru yang Dibuka?

Menurut data sementara dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, sedikitnya 50 hektare lahan tambak baru tengah dalam tahap persiapan. Lahan tersebut tersebar di Kecamatan Johan Pahlawan dan Kecamatan Samatiga.

Sebagian besar lahan merupakan bekas area persawahan yang kurang produktif dan rawa-rawa yang kini direklamasi menjadi kolam budidaya udang vaname. Target produksi dari lahan baru ini mencapai 200 ton per siklus panen.

Mengapa Arab Saudi Menjadi Pasar Baru yang Menjanjikan?

Arab Saudi menjadi salah satu tujuan ekspor utama karena permintaan udang di negara tersebut terus meningkat, terutama untuk kebutuhan hotel, restoran, dan katering selama musim haji dan umrah. Udang asal Aceh dinilai memiliki kualitas rasa dan ukuran yang sesuai dengan selera konsumen di sana.

Selain itu, jarak tempuh pengiriman dari Pelabuhan Meulaboh ke pelabuhan di Jeddah atau Dammam relatif lebih pendek dibandingkan dari daerah lain di Indonesia. Hal ini membuat biaya logistik lebih efisien dan kesegaran udang lebih terjaga.

Siapa Saja yang Terlibat dalam Perluasan Tambak Ini?

Perluasan tambak melibatkan petambak lokal dan sejumlah pengusaha perikanan dari Banda Aceh dan Medan. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memberikan pendampingan teknis budidaya serta sertifikasi kelayakan ekspor.

Beberapa petambak yang tergabung dalam kelompok usaha bersama juga mulai mengajukan bantuan modal ke Bank Aceh Syariah untuk mempercepat pembangunan tambak. Proses perizinan lahan disebut sudah mendapat lampu hijau dari Badan Pertanahan Nasional setempat.

Bagaimana Dampaknya bagi Ekonomi Warga Sekitar?

Pembukaan tambak baru ini diprediksi menyerap tenaga kerja hingga 300 orang, mulai dari pekerja konstruksi tambak, teknisi budidaya, hingga tenaga sortir dan pengepakan. Warga desa sekitar lokasi tambak diutamakan untuk mengisi posisi tersebut.

Kepala Desa Cot Darat, Kecamatan Johan Pahlawan, menyebut warganya antusias karena ada lapangan kerja baru di tengah lesunya sektor pertanian dan perkebunan sawit. "Harapannya, pendapatan warga naik dan anak-anak muda tidak perlu merantau lagi," katanya.

Apakah Ada Risiko Lingkungan dari Perluasan Tambak?

Dinas Lingkungan Hidup Aceh Barat mengingatkan agar pembukaan lahan tambak tetap memperhatikan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Beberapa titik rawa yang menjadi resapan air dikhawatirkan terganggu jika reklamasi dilakukan tanpa kajian matang.

Pemkab Aceh Barat mewajibkan setiap investor dan petambak menyusun dokumen lingkungan sebelum memulai operasi. Sanksi administratif hingga penghentian operasi akan diberlakukan jika aturan itu dilanggar.

Kapan Ekspor Perdana ke Arab Saudi Dijadwalkan?

Ekspor perdana udang dari Aceh Barat ke Arab Saudi ditargetkan berlangsung pada April 2026. Saat ini proses sertifikasi dari Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu tengah berjalan.

Jika semua tahapan rampung, udang dari Aceh Barat akan menjadi salah satu komoditas andalan ekspor nonmigas Provinsi Aceh ke Timur Tengah.

Bagikan
Sumber: foto.bisnis.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks