BANDA ACEH — Riska Munawarah, fotografer asal Banda Aceh, berhasil menembus seleksi ketat Joop Swart Masterclass 2026. Program tahunan World Press Photo ini hanya memilih 13 fotografer dari seluruh dunia, dan Riska menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia.
“Saya dinominasikan melalui PannaFoto Institute. Alhamdulillah bisa berada di antara 13 fotografer terpilih dari seluruh dunia. Proses seleksinya sangat ketat,” kata Riska, Kamis (4/6/2026).
Proses Seleksi: Dari 200 Kandidat Hanya 13 yang Lolos
Seleksi Joop Swart Masterclass tidak main-main. Setiap peserta harus melalui tahap nominasi, penilaian portofolio, proposal proyek, curriculum vitae, hingga esai motivasi. Tahun ini, sekitar 200 fotografer dari berbagai negara masuk dalam daftar nominasi, namun hanya 13 yang dinyatakan lolos.
Selain Indonesia, peserta terpilih berasal dari Palestina, Guatemala, Sudan, Bangladesh, Republik Demokratik Kongo, Mesir, Ukraina, Kolombia, Iran, dan Kanada. Keragaman negara ini menunjukkan bahwa program ini memang dirancang untuk menjaring perspektif global dalam fotografi dokumenter.
Program Satu Tahun: Daring hingga Tatap Muka di Kairo
Joop Swart Masterclass 2026 akan berlangsung selama satu tahun penuh. Peserta terlebih dahulu mengikuti pendampingan daring bersama mentor internasional. Puncaknya, mereka akan mengikuti masterclass tatap muka di Kairo, Mesir, pada November 2026.
Program ini khusus diperuntukkan bagi fotografer dokumenter dan fotojurnalis dengan pengalaman sekitar lima hingga sepuluh tahun. Tujuannya membantu peserta mengembangkan proyek jangka panjang sekaligus memperkuat kemampuan bercerita melalui fotografi.
Misi Riska: Membawa Cerita Aceh ke Panggung Internasional
Bagi Riska, lolos ke Joop Swart Masterclass bukan sekadar prestasi pribadi. Ia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mengangkat narasi-narasi dari tanah kelahirannya.
“Sebagai fotografer yang berasal dari Aceh, saya ingin membawa cerita-cerita dari daerah saya ke panggung internasional,” ujarnya.
Dengan latar belakang Aceh yang kaya akan sejarah, budaya, dan dinamika sosial pasca-konflik, portofolio Riska dinilai memiliki kedalaman tersendiri oleh dewan juri. Keikutsertaannya diharapkan membuka jalan bagi lebih banyak fotografer daerah untuk bersaing di level global.