BANDA ACEH — Proses pemulihan pendidikan pascabencana di Aceh berjalan lambat. Enam bulan setelah banjir dan tanah longsor, puluhan sekolah belum bisa kembali beroperasi normal. Data resmi menunjukkan 52 sekolah masih beroperasi dari tenda darurat, sementara 20 sekolah lainnya menumpang di lokasi yang berbeda.
Dari total tersebut, 3.001 sekolah lainnya telah kembali ke gedung asal mereka. Namun, angka 52 sekolah yang masih belajar di tenda menjadi perhatian serius, terutama karena sebagian besar berlokasi di daerah terpencil yang aksesnya terputus akibat bencana.
12 Sekolah di Aceh Tengah Masih Bertahan di Tenda
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, menyebutkan bahwa 12 sekolah di wilayahnya masih menggunakan tenda darurat. Sekolah-sekolah itu tersebar di tiga kecamatan: Ketol, Bintang, dan Linge.
"Saat ini ada beberapa sekolah masih belajar di tenda darurat, yaitu sekitar 12 sekolah," kata Salimsyah, dikutip dari Antara.
Menurut Salimsyah, kondisi geografis pascabencana menjadi kendala utama. Di sejumlah titik, badan sungai melebar dan menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mencapai sekolah asal. Pemerintah setempat kemudian membangun dua opsi: memperbaiki sekolah asal jika memungkinkan, atau mendirikan tenda darurat di lokasi yang lebih aman.
"Ada inisiatif pemerintah daerah membangun dua tempat, pertama, sekolah asal; kedua, ada tempat yang bisa dimanfaatkan di tenda," jelasnya.
Siswa di Aceh Barat Angkat Meja Sendiri saat Ujian di Tenda
Di Aceh Barat, kondisi serupa terjadi di SDN Alue Lhok, Kecamatan Pante Ceureumen. Sekolah ini menggelar ujian di tenda darurat yang didirikan di Desa Jambak pada Jumat (5/6/2026). Lokasi tenda berada tepat di depan gedung sekolah yang rusak, hanya beberapa meter dari bibir sungai.
Dalam momen ujian tersebut, sejumlah siswa terlihat mengangkat meja sendiri menuju tenda. Pemandangan itu menunjukkan betapa daruratnya fasilitas pendidikan yang tersedia.
Pemerintah Daerah Kejar Pembangunan Ruang Belajar Darurat
Pemerintah daerah di kedua wilayah mengaku terus berupaya menyediakan ruang belajar darurat sembari menunggu pembangunan sekolah permanen. Salimsyah menargetkan agar dalam waktu dekat anak-anak bisa belajar di tempat yang lebih layak, baik di rumah warga yang berdekatan maupun di lokasi sekolah lain.
"Kita harapkan dalam waktu dekat bisa dihadirkan ruang belajar darurat, apakah di rumah atau sekolah berdekatan. Yang jelas, ini terus kita usahakan secepat mungkin demi menghadirkan pendidikan yang nyaman untuk anak-anak kita," kata Salimsyah.
Belum ada jadwal pasti kapan seluruh sekolah di Aceh bisa kembali beroperasi normal. Namun, data Kemendikdasmen per Februari 2026 setidaknya menunjukkan bahwa mayoritas sekolah—3.001 dari total yang terdampak—sudah pulih. Sisanya masih menunggu perhatian lebih dari pemerintah pusat dan daerah.