BIREUEN — Kementerian Pertanian (Kementan) RI mulai merealisasikan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kabupaten Bireuen tahun 2026 ini. Total lahan yang dibuka mencapai 140 hektare yang tersebar di lima kecamatan.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Kabupaten Bireuen, Mulyadi, mengatakan proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas lahan pertanian produktif. Tujuannya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Sebaran Lahan di Lima Kecamatan
Lahan cetak sawah baru tersebut berada di Kecamatan Pandrah seluas 46,89 hektare, Kecamatan Simpang Mamplam 43,77 hektare, dan Kecamatan Makmur 34,1 hektare. Dua kecamatan lainnya mendapat jatah lebih kecil, yakni Peusangan 9,5 hektare dan Juli 5,74 hektare.
Mulyadi menjelaskan, sebelumnya Dinas Pertanian Bireuen telah mengusulkan pembangunan lahan sawah rakyat lebih dari 1.000 hektare. Namun setelah kajian teknis, banyak lokasi yang belum bisa direalisasikan karena tidak memiliki sumber air yang memadai.
Verifikasi Digital untuk Cegah Kesalahan
Seluruh lokasi cetak sawah telah melalui kajian lingkungan dan wajib berada di luar Lahan Baku Sawah (LBS). Artinya, program ini tidak mungkin dilaksanakan di atas sawah yang sudah ada sebelumnya.
“Tidak ada cerita pemerintah mencetak sawah di atas sawah sudah ada,” tegas Mulyadi, Selasa (28/7).
Saat ini proses verifikasi lokasi menggunakan teknologi pemetaan digital dan citra satelit. Setiap usulan lahan bisa dipastikan keakuratannya, berbeda dengan metode manual di masa lalu yang rawan kesalahan.
Pekerjaan Baru Dimulai, Target September 2026
Mulyadi menepis tudingan yang menyebut adanya pembangunan CSR di atas lahan sawah lama. Menurutnya, jika hal itu terjadi, pemerintah pusat otomatis akan membatalkan program tersebut karena melanggar petunjuk teknis.
Seluruh pekerjaan CSR di Kabupaten Bireuen saat ini baru dimulai dan ditargetkan rampung pada September 2026. Mulyadi berharap masyarakat mendukung program ini dan tidak membangun opini yang menghambat pelaksanaannya.
“Program CSR merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan pertanian. Ketika lahan bertambah, produksi pangan meningkat; ketika produksi meningkat, kesejahteraan petani ikut tumbuh,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program ini membutuhkan dukungan semua pihak agar manfaatnya dirasakan secara luas. “Sawah bukan sekadar hamparan tanah, melainkan sumber kehidupan. Setiap jengkal lahan yang dibuka untuk pertanian adalah ikhtiar menanam harapan,” pungkas Mulyadi.