Warga Aceh di Harrisburg Angkat Tragedi Kuala Batu 1832, Lebih dari 450 Warga Lokal Tewas dalam Serangan Angkatan Laut AS

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Senin, 25 Mei 2026 | 11:10:07 WIB
Warga Aceh di Harrisburg mengenang tragedi serangan angkatan laut AS di Kuala Batu tahun 1832.

HARRISBURG — Safur Baktiar, warga Aceh yang menetap di Harrisburg, Amerika Serikat, mengingatkan kembali tragedi berdarah dalam relasi Aceh dan Negeri Paman Sam. Ia menyebut serangan militer AS ke Kuala Batu pada 1832 bukan sekadar aksi balas dendam atas perompakan kapal dagang, melainkan tragedi kemanusiaan yang jarang dibahas utuh dalam literasi sejarah Indonesia.

Peristiwa itu berawal dari perampasan kapal Friendship di Kuala Batu pada Februari 1831. Kapal pembeli lada itu diserang, sejumlah awak tewas, namun Kapten Charles M. Endicott selamat dan melapor ke Washington. Presiden Andrew Jackson lantas memerintahkan kapal perang USS Potomac di bawah Komodor John Downes berlayar ke perairan Sumatra.

Bombardir yang Menewaskan Ratusan Jiwa

USS Potomac tiba di Kuala Batu pada 5 Februari 1832. Kapal itu disebut menyamar sebagai kapal dagang Denmark demi menjaga kejutan. Pasukan marinir dan pelaut AS mendarat, menyerbu benteng pertahanan lokal, lalu membombardir kawasan tersebut.

Korban di pihak Kuala Batu sangat besar. Historia mencatat lebih dari 450 penduduk tewas, termasuk warga sipil. Sumber sejarah Melayu menyebut lebih dari 150 orang tewas dalam serangan darat dan lebih dari 300 lainnya akibat bombardir desa. Di pihak Amerika, dua orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka.

Bukan Sekadar Kisah Perompak dan Meriam

Safur menilai peristiwa itu tidak cukup dilihat hanya dari sudut pembalasan atas penyerangan kapal dagang. Menurutnya, konteks perdagangan lada, relasi kuasa, serta ketegangan antara pedagang asing dan masyarakat lokal perlu dibaca berimbang.

“Jangan hanya dibaca sebagai tindakan perompakan lalu dibalas perang. Ada konteks ekonomi, perdagangan lada, dan relasi yang tidak setara antara pedagang asing dan masyarakat lokal,” kata Safur kepada Dialeksis, Senin (25/5/2026).

Ia menambahkan, Aceh sejak abad ke-19 sudah berada dalam pusaran perdagangan global. Komoditas lada membuat pantai barat Aceh menjadi titik penting bagi kapal-kapal asing, termasuk dari Amerika.

Jejak Aceh dalam Sejarah Militer Awal AS di Asia

Ekspedisi Sumatra Pertama tercatat sebagai salah satu operasi militer luar negeri awal Amerika Serikat di Asia. Naval History and Heritage Command mencatat peristiwa ini sebagai bagian dari penggunaan kekuatan bersenjata AS di luar negeri, ketika pasukan laut mendarat untuk “menghukum” kawasan Kuala Batu atas gangguan terhadap pelayaran Amerika.

Safur berharap peristiwa Kuala Batu mendapat ruang lebih besar dalam literasi sejarah Aceh. Menurutnya, kisah ini bisa menjadi bahan refleksi tentang perdagangan, kedaulatan, dan posisi Aceh dalam hubungan internasional sejak masa lampau.

“Ini bukan sekadar cerita kapal, lada, dan meriam. Ini pelajaran tentang kehormatan, diplomasi yang gagal, dan mahalnya konflik ketika kepentingan dagang bertemu dengan kekuatan militer,” pungkas Safur.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: dialeksis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top