ACEH — Rolls-Royce resmi meluncurkan Spectre Series II, versi pembaruan dari mobil listrik super coupe andalannya. Pabrikan asal Inggris itu memfokuskan perubahan pada tiga aspek yang selama ini menjadi titik lemah Spectre: jarak tempuh, infrastruktur pengisian, dan tenaga.
Berdasarkan informasi resmi yang dirilis Rolls-Royce, Spectre Series II kini memiliki estimasi jarak tempuh EPA 308 mil, naik 16% dari generasi sebelumnya yang hanya 265 mil. Pencapaian ini didapat dari rekayasa ulang sel baterai. Waktu pengisian daya juga diklaim berkurang 14%, meski pabrikan tidak merinci angka kilowatt spesifik maupun kurva pengisian.
Perubahan paling signifikan untuk pasar Amerika Serikat adalah perpindahan ke standar pengisian NACS. Langkah ini memberi pemilik Spectre akses ke jaringan Supercharger Tesla yang luas dan lebih andal dibandingkan infrastruktur CCS yang kerap dikeluhkan. Rolls-Royce menyebut keputusan ini demi “kenyamanan, fleksibilitas, dan ketenangan pikiran yang lebih besar.”
Spectre Series II standar kini menghasilkan 593 hp dan torsi 749 lb-ft, naik dari 577 hp dan 664 lb-ft. Namun varian Black Badge-lah yang menjadi bintang: 670 hp dalam mode “Infinity Mode” dan torsi hingga 811 lb-ft dalam mode “Spirited Mode”. Angka ini menjadikannya Rolls-Royce produksi paling bertenaga dalam 122 tahun sejarah perusahaan.
Varian Black Badge juga mendapat detail eksterior baru “Iced Black” yang mengubah sebagian besar aksen krom menjadi matte, ditambah desain velg tujuh palang dengan lapisan serpihan kaca. Di dalam kabin, jam terinspirasi penerbangan ditempatkan di vitrin bersama figur Spirit of Ecstasy yang menyala.
Meski secara teknis Spectre disebut Rolls-Royce sebagai “salah satu mobil paling signifikan dan dirayakan di era modern,” data penjualan menunjukkan cerita berbeda. Pada 2025, Spectre hanya terjual 1.002 unit secara global — turun drastis dari sekitar 1.900 unit tahun sebelumnya. Pangsa Spectre terhadap total penjualan Rolls-Royce pun merosot dari sepertiga menjadi kurang dari seperlima.
Sebaliknya, Cullinan bermesin V12 justru mencatat kenaikan 27% dan kini menyumbang hampir 60% volume penjualan merek tersebut. Rolls-Royce menyebut Spectre masih menjadi model terlaris kedua — pernyataan yang secara teknis benar namun menutupi besarnya penurunan.
Data internal pabrikan menunjukkan pemilik Spectre rata-rata hanya menempuh 4.000 mil per tahun dan hampir selalu mengisi daya di rumah. Untuk mobil dengan harga mulai USD 397.750 (USD 467.750 untuk Black Badge), angka itu menjadikan Spectre sebagai “garasi mahal” — satu klien yang disebut luar biasa hanya menempuh 30.000 mil dalam dua tahun.
Seperti tradisi Rolls-Royce, pembaruan Spectre Series II juga menyoroti opsi kustomisasi. Kain anyaman “Duality Twill” dari rayon bambu membutuhkan hingga 2,6 juta jahitan dan 25 jam pengerjaan. “Placed Perforation” pada kulit memiliki 78.138 lubang presisi. Sementara veneer Brindled Walnut dibuat dari pohon kenari non-buah yang dikombinasikan serat kayu putih daur ulang.
Rolls-Royce mengklaim permintaan Bespoke pada Spectre hanya kalah dari Phantom, dengan beberapa klien memesan lebih dari 20 elemen individual.
Dengan jarak tempuh 308 mil, Spectre Series II memang membaik — namun lanskap kompetitif sudah berubah drastis sejak model asli meluncur pada 2022. Mercedes-Benz EQS 2026 dengan arsitektur 800V menawarkan hingga 575 mil (WLTP). Lucid Air, yang banderolnya mulai USD 70.000, sudah mencatat lebih dari 500 mil EPA.
Kendati begitu, Spectre tetap bermain di segmen yang hanya diisi oleh dirinya sendiri: mobil listrik ultra-mewah di atas USD 350.000. Bentley, pesaing terdekat Rolls-Royce, belum juga meluncurkan EV produksi. Keunggulan sebagai first-mover masih bertahan, setidaknya untuk saat ini.