ACEH — Pertandingan baru berjalan 15 menit ketika Taremi menyambut umpan silang dari sayap kiri. Bola sudah melewati garis gawang kiper Belgia, Koen Casteels, sebelum hakim garis mengangkat bendera. Wasit asal Argentina, Facundo Tello, langsung meniup peluit panjang dan memutuskan gol tidak sah.
Keputusan itu sontak memicu protes para pemain Iran. Replay televisi menunjukkan posisi Taremi sedikit lebih maju dari bek terakhir Belgia saat umpan dilepaskan. VAR kemudian mengonfirmasi keputusan wasit di lapangan.
“Kami sangat kecewa. Gol itu sah menurut mata kami,” ujar salah satu staf pelatih Iran kepada awak media saat jeda pertandingan. Meski begitu, mereka harus menerima keputusan wasit yang sudah final.
Setelah momen kontroversial itu, Belgia mengambil alih kendali permainan. Kevin De Bruyne beberapa kali mengancam pertahanan Iran lewat umpan-umpan terobosan. Namun, lini depan Belgia masih tumpul dalam penyelesaian akhir.
Jeremy Doku sempat lolos dari kawalan bek Iran di menit ke-32. Sayangnya, tembakan mendatarnya masih bisa ditepis kiper Iran, Payam Niazmand. Peluang emas lainnya datang dari Romelu Lukaku yang sundulannya melambung tipis di atas mistar gawang.
Iran lebih banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat. Sardar Azmoun menjadi ujung tombak, namun kerap kehilangan bola saat berhadapan dengan duet bek Belgia, Jan Vertonghen dan Wout Faes.
Dominasi penguasaan bola Belgia tak berbanding lurus dengan jumlah peluang berbahaya. Iran justru tampil lebih efisien meski minim penguasaan.
Timnas Iran harus bermain lebih terbuka di babak kedua jika ingin merebut poin dari Belgia. Pelatih Carlos Queiroz diprediksi akan memasukkan pemain dengan kemampuan dribel lebih baik untuk membongkar pertahanan Belgia yang mulai terlihat goyah.
Di sisi lain, Belgia wajib waspada. Satu kesalahan di lini belakang bisa berakibat fatal. Dengan hasil imbang 0-0 di babak pertama, semua masih terbuka di sisa 45 menit terakhir.