BANDA ACEH — Fasilitas air minum gratis bernama Sayyid Osman Hulusi Efendi Hazretresi ini diresmikan di kampus UIN Ar-Raniry, Darussalam, Selasa. Proyek ini merupakan buah kerja sama Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi bersama Somuncu Baba Education, Culture and Social Aid Organization, serta didukung Yayasan Tarara Global Humanity.
Bangunan ini mengadopsi air mancur klasik Turki dengan delapan keran. Sistem pemurnian airnya berkapasitas 3.000 liter dan menggunakan teknologi reverse osmosis (RO) sehingga air siap minum langsung.
Di bagian bangunan terpampang prasasti dalam empat bahasa: Indonesia, Turki, Inggris, dan Arab. Kampus juga menyiapkan penampungan 10 meter kubik yang terhubung dengan PDAM untuk menjaga pasokan.
Anggota Dewan Pengawas Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi, Ali Gençal, mengatakan proyek ini bagian dari tradisi pelayanan sosial yang diwariskan tokoh sufi tersebut. Menurutnya, menyediakan akses air bersih memiliki makna penting dalam Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sedekah terbaik adalah memberi minum.
"Proyek ini menjadi wujud persaudaraan yang terus terjalin antara Indonesia dan Turki, khususnya dengan masyarakat Aceh yang memiliki ikatan sejarah panjang dengan negeri tersebut," kata Ali.
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman menyatakan kehadiran anjungan air minum ini bukan hanya sebagai infrastruktur penyedia air gratis. "Bangunan berarsitektur Ottoman ini bukan sekadar infrastruktur penyedia air minum gratis, melainkan simbol persaudaraan dan kerja sama kemanusiaan antara dua bangsa yang telah terhubung sejak berabad-abad lalu," ujarnya.
Ia menambahkan penyediaan air minum merupakan bentuk sedekah yang memberi manfaat luas dan berkelanjutan. Kampus juga telah menyiapkan sistem agar pasokan air tetap terjaga untuk jangka panjang.
Mujiburrahman berharap kerja sama ini tidak berhenti di fasilitas air minum. Ke depannya, ia ingin memperluas kolaborasi ke bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan pengabdian masyarakat.
Proyek ini menjadi yang pertama berskala internasional dibangun di luar Turki, menjadikan UIN Ar-Raniry sebagai titik awal hubungan kemanusiaan yang lebih erat antara dua negara serumpun sejarah itu.