ACEH — Kepanikan nyaris merusak misi Thomas Tuchel. Inggris yang diunggulkan justru tertinggal sejak menit ketujuh lewat gol Brian Cipenga. Pertahanan Inggris berantakan, peluang berserakan, dan kiper Kongo, Lionel Mpasi, bertindak seperti tembok yang tak tertembus. Untuk 75 menit, mimpi buruk seperti kekalahan dari Islandia di 2016 terbayang kembali.
Semua dimulai dari serangan sayap Kongo. Kapten Chancel Mbemba mengirim umpan silang dari dalam ke arah Noah Sadiki yang berlari ke kotak penalti. Bek tengah Inggris salah posisi, tertarik pada bola, dan Djed Spence memutuskan mengikuti Sadiki. Bola melambung melewati mereka berdua, dan Cipenga berdiri bebas di sisi jauh. Kontrol dan tembakan mendatar melewati Jordan Pickford di tiang dekat. Gol yang seharusnya bisa dihindari.
Alih-alih bangkit, Inggris justru kian kalut. Jude Bellingham mendapat kartu kuning karena tekel ceroboh, dan umpan-umpan salah menghiasi sisa babak pertama. Namun, peluang tetap mengalir. Mpasi menggagalkan dua sundulan Bellingham dan satu voli Kane. Axel Tuanzebe juga melakukan penyelamatan krusial. Kontroversi pecah di menit 43 ketika Kane dijatuhkan Mpasi di kotak terlarang. Wasit Adham Makhadmeh menilai Kane sengaja mencari kontak dan tak menunjuk titik putih. VAR pun bungkam. Inggris beruntung tembakan Yoane Wissa hanya mengenai tiang luar.
Tuchel meminta kesabaran saat jeda. Keyakinannya terbukti benar. Pada menit 75, umpan silang Anthony Gordon menemukan kepala Kane di tiang dekat. Sundulannya tak bisa dihalau Mpasi. Stadion menghela napas lega. Kongo kehilangan semangat. Sepuluh menit kemudian, Kane menerima bola di sisi kanan, mengontrol, dan melepaskan tembakan keras ke pojok atas gawang. 2-1. Inggris selamat.
Kemenangan ini baru kemenangan kesembilan Inggris di babak gugur Piala Dunia sejak 1966. Kane kini telah mengoleksi lima gol di turnamen ini. Namun, performa buruk di lini belakang menjadi alarm serius. Inggris akan menghadapi Meksiko di Estadio Azteca pada babak 16 besar pekan depan — stadion yang menyimpan banyak kenangan pahit bagi mereka. “Hasil adalah segalanya,” kata Tuchel. Itu benar, tapi perbaikan mutlak diperlukan jika mereka ingin bertahan lebih lama.