BENER MERIAH — Jembatan Enang-Enang yang menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas warga di Kabupaten Bener Meriah akhirnya bisa digunakan kembali. Infrastruktur tersebut hancur setelah longsor menerjang kawasan itu pada November 2025. Alih-alih menunggu proyek pemerintah yang baru digarap pada 2027, masyarakat memutuskan untuk bergerak sendiri.
Mereka berhasil menggalang dana gotong royong senilai Rp1,08 miliar. Uang tersebut digunakan untuk memperbaiki struktur jembatan yang rusak parah. Peresmiannya digelar pada 2 Juli 2026, ditandai dengan doa bersama yang dipimpin ulama kharismatik Aceh, Abiya Jeunieb, dan dilanjutkan pemotongan pita oleh Sahrial Abadi, tokoh penggerak utama pengumpulan dana swadaya ini.
Di balik keberhasilan ini, perhatian warga tidak hanya tertuju pada pembangunan fisik. Mereka juga mengawasi ketat pengelolaan uang yang terkumpul. Sahrial Abadi berkomitmen untuk mempublikasikan seluruh rincian penggunaan anggaran secara terbuka kepada publik.
"Keterbukaan menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan warga yang telah ikut berkontribusi dalam pembangunan jembatan tersebut," ujar Sahrial. Langkah ini diambil agar tidak ada spekulasi negatif yang bisa merusak semangat kebersamaan yang sudah terbangun.
Meski sudah bisa dilintasi, jembatan hasil swadaya ini memiliki sejumlah keterbatasan. Konstruksinya belum dirancang untuk menahan beban kendaraan berat, seperti truk bermuatan besar. Warga pun masih menaruh harapan besar pada pemerintah untuk merealisasikan pembangunan jembatan permanen sesuai rencana awal.
Aksi warga Bener Meriah ini menuai banyak apresiasi dari warganet di media sosial. Banyak yang menilai inisiatif ini menjadi contoh nyata solidaritas masyarakat di tengah keterbatasan. “Salut dengan kekompakan warga. Kalau masyarakat bersatu, banyak hal yang bisa diwujudkan,” tulis salah satu netizen. Komentar lainnya menyoroti pentingnya transparansi dana, “Yang paling penting bukan hanya membangun, tapi menjaga kepercayaan.”
Perbaikan Jembatan Enang-Enang bukan sekadar proyek infrastruktur. Lebih dari itu, kisah ini menjadi bukti bahwa ketika akses kehidupan terancam putus, semangat gotong royong mampu menjadi solusi yang lahir langsung dari tangan warga.