ACEH — Dalam sambutannya saat meresmikan Bendungan Meninting di Lombok Barat, Jumat (10/7/2026), Prabowo mengklaim bahwa dari hasil penertiban ini, pemerintah telah menghemat Rp70 triliun. Angka tersebut berasal dari pemangkasan biaya overhead dan gaji direksi di perusahaan-perusahaan yang dinilai tidak sehat.
Presiden melaporkan bahwa hingga akhir Juli 2026, sebanyak 250 perusahaan negara akan resmi ditutup. Angka itu akan terus bertambah hingga 800 perusahaan pada penghujung tahun ini.
"Saya dapat laporan, beberapa BUMN yang sekian puluh tahun rugi, rugi, rugi, tahun ini mulai untung," ujar Prabowo di hadapan para tamu undangan.
Ia menekankan bahwa jumlah BUMN yang sebenarnya jauh lebih besar dari perkiraan awalnya. "Perkiraan saya dari dulu 300, maksimal 400. Begitu dilantik, baru saya diberitahu BUMN kita 1.077. Itu pun jangan-jangan ada lagi anak perusahaan, cucu, cicit. Dan itu adalah cara mereka untuk sembunyi. Sembunyikan uang negara," tegasnya.
Di tengah gelombang penutupan, Prabowo menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan strategis nasional justru akan dibangkitkan. Ia menyebut PT Garuda Indonesia yang sebelumnya hampir dijual ke pihak asing kini mulai menunjukkan perbaikan.
"Garuda tadinya mau dijual, saya larang. Sekarang sudah mulai bangkit. Bulan depan sudah mulai untung dari sekian puluh tahun rugi," ungkap Presiden.
Nasib serupa juga dialami tiga perusahaan industri pertahanan: PT PAL, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Prabowo mengaku melarang rencana penjualan ketiga perusahaan tersebut ke asing.
Presiden membeberkan capaian terbaru industri pertahanan nasional. PT PAL Indonesia kini mampu memproduksi kapal perang canggih dan kapal selam. Sementara PT Pindad, menurut laporan yang diterima Prabowo, baru saja mendapatkan kontrak besar dari Arab Saudi.
"Semua senapan dan senapan mesin tentara Arab Saudi akan dibangun oleh PT Pindad," ujar Prabowo.
Prestasi ini, menurutnya, membuktikan bahwa industri strategis dalam negeri mampu bersaing di pasar global jika dikelola dengan benar.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyoroti pembentukan Danantara, sovereign wealth fund milik Indonesia. Ia mengklaim dana kedaulatan tersebut kini masuk dalam jajaran lima terbesar di dunia.
"Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, kita punya dana kedaulatan sendiri. Danantara adalah kekuatan ekonomi rakyat Indonesia yang kita satukan," pungkasnya.