BANDA ACEH — Puluhan bahkan ribuan manuskrip Nusantara yang masih tersimpan di komunitas dan masyarakat lokal menghadapi ancaman kerusakan serius. Digitalisasi menjadi salah satu solusi utama yang ditawarkan para akademisi untuk menjaga agar isi naskah tidak hilang ditelan zaman.
Abdullah Maulani, MHum dari DREAMSEA-PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memaparkan bahwa banyak manuskrip disimpan di tempat-tempat sakral, ruang lembap, hingga lokasi terpencil tanpa listrik. Kondisi ini mempercepat kerusakan fisik naskah.
"Digitalisasi merupakan bagian dari upaya penyelamatan manuskrip yang terancam rusak akibat usia, kondisi lingkungan, maupun keterbatasan akses penyimpanan," kata Abdullah dalam seminar bertajuk "Digitalizing Nusantara Manuscripts for Intellectual Sustainability, Cultural Resilience, and Global Knowledge Exchange".
Melalui program DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia), seluruh hasil digitalisasi naskah disediakan dalam skema akses terbuka (open access). Abdullah menyebut, kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional RI pun dibangun untuk menyediakan fasilitas penyimpanan yang lebih aman.
Pemilik naskah asli tidak hanya mendapatkan salinan digital, tetapi juga sertifikat resmi sebagai bentuk pengakuan kepemilikan. "Tantangan pelestarian tidak hanya soal fisik manuskrip, tetapi juga akses menuju lokasi penyimpanan, keterbatasan listrik di lapangan, hingga keberlanjutan program konservasi," imbuhnya.
Digitalisasi tidak sekadar menyelamatkan isi naskah. Abdullah mencontohkan, sejumlah manuskrip kuno telah diadaptasi menjadi motif batik, komik digital, hingga materi edukasi. "Warisan intelektual Nusantara tetap hidup dan dapat dikenalkan kepada generasi muda," ujarnya.
Sementara itu, Dr Farid Mat Zain dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menekankan bahwa manuskrip Melayu merupakan sumber penting untuk memahami sejarah peradaban, perkembangan Islam, bahasa, sastra, dan hukum di Asia Tenggara. Ia menyampaikan materi "Digitalisasi Manuskrip Melayu Nusantara: Pemerhatian Awal" secara virtual dari Malaysia.
Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof Eka Srimulyani, MA, PhD, mengatakan manuskrip Nusantara merupakan aset intelektual yang menyimpan sejarah, tradisi keilmuan, dan identitas budaya masyarakat. "Tema ini sangat penting karena tidak hanya berbicara mengenai sejarah manuskrip Nusantara, tetapi juga bagaimana warisan intelektual tersebut menjadi bagian dari penguatan ketahanan budaya," katanya saat membuka seminar.
Menurut Eka, pertukaran pengetahuan secara global menjadi keniscayaan. "Kita tidak akan berkembang sendiri, tetapi melalui kolaborasi dan jejaring akademik yang kuat," tegasnya.
Ketua Program Studi Doktor Studi Islam, Prof Dr Syamsul Rijal, MAg, menambahkan bahwa seminar berseri ini menjadi komitmen pascasarjana dalam memperkuat budaya riset dan mempertemukan pakar nasional dan internasional untuk membahas isu-isu strategis dalam kajian Islam.