BLANGPIDIE — Pementasan yang merupakan bagian kedua dari program pelestarian warisan budaya ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Setelah sukses pada tahun sebelumnya, ARD kembali memilih Abdya sebagai lokasi karena dinilai memiliki komunitas seni yang kuat dan masyarakat yang mencintai seni tutur.
Direktur ARD, Misdarul Ihsan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program LPDP untuk mendorong ekosistem budaya di daerah. “ARD ingin memastikan budaya daerah seperti Hikayat Dang Deria tetap hidup dan dikenal luas,” ujarnya.
Hikayat Dang Deria sendiri merupakan salah satu karya sastra klasik Aceh yang sarat nilai sejarah dan moral. Cerita ini mengangkat tema kepahlawanan, cinta tanah air, dan nilai-nilai keislaman. Agar lebih mudah dicerna oleh generasi milenial dan Gen Z, kisah tersebut dikemas dalam bentuk pertunjukan teaterikal yang dipadukan dengan musik tradisional.
Kadisporaparekraf Abdya Safrizal, yang akrab disapa Jhon Rolexs, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya. “Kami sangat berterima kasih kepada Lembaga Aceh Resource Development beserta sponsor yang terus konsisten mendukung pelestarian budaya Aceh. Hikayat Dang Deria bukan hanya hiburan, tapi juga sarana pendidikan karakter bagi generasi muda Abdya,” katanya.
Wakil Bupati Abdya Zaman Akli juga menyambut baik kegiatan seni seperti ini. “Ini momentum bagus untuk memperkenalkan Abdya tidak hanya dari sisi potensi daerah, tapi juga kekayaan budayanya. Semoga anak-anak muda kita terinspirasi untuk terus melestarikan hikayat,” ujarnya singkat.
Pementasan yang digelar di Gampong Padang Geulumpang, Kemukiman Iku Lhung, itu turut dihadiri oleh Direktur RSUD-TP Ismail Muhammad, Ketua MAA Abdya Syeh Sabirin, serta puluhan tokoh masyarakat. Ratusan warga tampak antusias menyaksikan jalannya pertunjukan sejak malam hingga selesai.
ARD berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai daerah di Aceh. Pelestarian sastra lisan seperti Hikayat Dang Deria dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.