ACEH — Jangan bayangkan menonton "The Odyssey" di layar IMAX sama seperti di bioskop konvensional. Di Regal Mall of Georgia, layar IMAX setinggi 60 kaki dan lebar 81,5 kaki memenuhi seluruh sudut pandang Anda. Anda tidak lagi sekadar menonton—Anda seakan-akan berdiri di samping awak kapal Odysseus saat bersembunyi dari Cyclops Polyphemus atau berlayar di tengah badai Laut Tengah yang ganas.
Di teater biasa seperti Tara di Atlanta, film terasa rapi terbingkai dalam layar. Anda sadar sedang berada di ruang yang terpisah dari narasi. Namun di IMAX, tidak ada jarak. Layar raksasa membuat Anda tidak punya pilihan selain tenggelam dalam cerita.
Bahkan dari kursi baris kedua, saya masih bisa mengikuti komposisi sinematografer Hoyte van Hoytema. Justru di sinilah keunggulan IMAX: Anda bisa fokus pada detail kecil yang luput di layar biasa. Dalam satu adegan, putra Odysseus, Telemachus, yang sedang berlatih di tebing nyaris tak terlihat di bioskop biasa, namun sangat jelas di IMAX.
Sistem suara IMAX di Mall of Georgia menambah lapisan imersi lain. Dentang senjata spesifik dalam adegan pertempuran besar bisa dibedakan dengan jelas. Skor bombastis gubahan Ludwig Göransson terasa seperti ditumbuk ke tulang belakang Anda. Satu adegan mengerikan di mana manusia berubah menjadi babi terasa lebih gamblang di IMAX—Anda bisa melihat prosesnya dengan lebih jelas dan mendengar tulang mereka berderak dengan cara yang tak wajar.
Skala besar layar IMAX juga membuat Anda sadar akan kerja keras manusia di balik film ini. Kapal-kapal benar-benar dibangun dan dilayarkan di lautan. Ratusan orang berkumpul untuk memindahkan Kuda Troya ukuran penuh dari pantai. Dua ribu figuran dikerahkan untuk membuat pengepungan Troy terasa epik dan meyakinkan.
Membawa kamera IMAX besar ke mana-mana tidaklah mudah. Membangun set praktis dan bepergian ke seluruh dunia jauh lebih sulit daripada syuting di Volume (latar belakang LED yang digunakan dalam proyek Star Wars dan Marvel terbaru). Namun hasilnya bicara sendiri. Kita belum melihat epik skala besar seperti ini selama beberapa dekade—dan tidak, Gladiator II tidak memenuhi standar itu.
"The Odyssey" adalah pengingat bagaimana teknologi bisa memberdayakan kreativitas manusia tanpa menggantikannya. Tentu, akan lebih mudah menceritakan kisah serupa dengan AI, seperti yang dilakukan film animasi Odysseus: The Fall. Namun proyek itu memiliki semua ciri khas konten murahan: karakter yang terlihat tidak manusiawi dan lingkungan yang seolah-olah berasal dari video game.
Bukan hal mengejutkan bahwa Nolan, seorang sutradara yang bahkan tidak menggunakan ponsel pintar, tidak melihat masa depan yang cerah bagi AI. "Hal yang menarik dengan AI adalah saya belum pernah melihat teknologi yang begitu sukses diadopsi oleh Wall Street, investor, dan perusahaan teknologi, namun publik menolaknya dengan sangat total," ujar Nolan dalam wawancara dengan AFP (via The Guardian). Ia menambahkan, "Ada semacam keengganan terhadap hal-hal AI... Gagasan bahwa AI menggantikan manusia secara keseluruhan dan kreativitas manusia, menurut saya itu omong kosong."
Saya sadar sulit bagi kebanyakan orang untuk menonton "The Odyssey" dalam kemegahan penuh 70mm IMAX. Bahkan jika Anda bisa sampai ke lokasi IMAX asli—bukan layar "Lie-Max" yang lebih kecil—tiket kemungkinan besar sudah habis terjual untuk beberapa minggu ke depan. Namun seperti perjalanan Odysseus sendiri, usaha untuk menontonnya di IMAX nyata adalah sebuah perjalanan yang sepadan.