Kopi Liberika Tangse dari Pidie Mulai Dilirik Pasar Modern, Punya Aroma Nangka hingga Durian

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Senin, 20 Juli 2026 | 18:57:31 WIB
Petani memetik buah kopi liberika matang di perkebunan Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie.

PIDIE — Di tengah dominasi kopi arabika dan robusta di industri kopi nasional, kopi liberika asal Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, perlahan mencuri perhatian. Jenis kopi yang oleh warga setempat disebut kopi panah (nangka) ini selama puluhan tahun hanya dijual sebagai komoditas biasa dengan harga rendah di tingkat petani.

Kini, kopi tersebut mulai diolah dan disajikan dengan konsep kedai kopi modern. Kedai Kopi Barika menjadi salah satu pelopor yang memperkenalkan liberika Tangse ke konsumen perkotaan di Aceh Besar dan Banda Aceh.

Rasa Unik yang Terus Berubah Seiring Waktu

Owner Barika Cafe, Anugrah Pratama, menyebut kopi liberika Tangse sebagai emas hijau yang selama ini tersembunyi. Menurutnya, kopi ini memiliki karakter rasa creamy, fruity, dan smoky yang sulit ditemukan pada jenis kopi lain.

"Ini salah satu kopi langka di dunia yang selama ini belum banyak dikenal," ujar Anugrah di kedai kopi Barika Batoh, Senin (20/6/2026).

Yang membuat liberika berbeda, rasanya tidak statis. Setelah proses roasting, cita rasa kopi ini terus berkembang berdasarkan usia penyimpanan. Pada periode tertentu muncul rasa nangka, lalu berubah menjadi karakter durian, hingga sensasi kacang dan buah lainnya.

"Ini yang menarik dari liberika. Rasanya tidak berhenti di satu karakter, ada perjalanan rasa setelah proses roasting," katanya.

Dari Biji Biasa ke Minuman Kekinian

Kedai Kopi Barika tidak hanya menjual biji hasil roasting. Mereka menghadirkan liberika dalam bentuk minuman modern seperti sanger liberika, americano liberika, dan kopi susu liberika. Saat ini, kopi tersebut bisa dinikmati di Barika Lambaro, Aceh Besar, dan Barika kawasan Batoh, Banda Aceh.

"Di Aceh ini pertama kali adanya di Kedai Kopi Barika," sebut Anugrah.

Menurutnya, masuknya liberika ke kedai kopi modern menjadi cara efektif agar kopi lokal lebih mudah dikenal, terutama oleh generasi muda yang akrab dengan budaya ngopi di coffee shop.

Persoalan di Hulu: Petani Belum Sadar Kualitas

Meski potensi pasar terbuka lebar, tantangan terbesar justru berada di tingkat petani. Selama ini, kopi liberika belum dianggap sebagai kopi bernilai tinggi. Akibatnya, harga jual di petani rendah dan proses budidaya maupun pasca panen belum serius.

Anugrah mengungkapkan, banyak petani belum melakukan pemilahan kualitas saat panen karena tidak ada perbedaan harga signifikan antara kopi berkualitas dan kopi campuran. Padahal, kualitas biji sangat menentukan cita rasa akhir.

Barika mulai membangun pola kemitraan dengan petani Tangse. Salah satu upayanya mendorong petani memanen buah kopi merah dan memperbaiki proses pengeringan agar kualitas kopi meningkat.

"Kami ingin petani melihat bahwa kopi ini punya nilai. Kalau kualitasnya dijaga, maka harga dan pasar juga akan berubah," ujar Anugrah.

Dari Tangse ke Pasar Internasional

Kopi liberika Tangse memiliki keunggulan lain. Tanaman ini bisa tumbuh tinggi dan berdampingan dengan vegetasi lain, sehingga potensial dikembangkan dengan konsep pertanian berkelanjutan.

Saat ini, kopi tersebut mulai diperkenalkan dalam bentuk biji roasting dan minuman siap saji. Tidak hanya pasar lokal, liberika Tangse mulai menarik perhatian dari luar daerah hingga Malaysia.

Bagi Barika, langkah ini merupakan bagian dari perjalanan panjang memperkenalkan kekayaan Aceh yang hampir terlupakan. Dari Tangse, kopi langka ini perlahan menuju pasar yang lebih luas.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Sumber: masakini.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top