ACEH — Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mendadak menjadi rebutan investor multinasional. Pasalnya, kepastian skema kontrak jangka panjang dari PLN membuat bisnis ini dinilai sangat menguntungkan bagi sektor swasta.
"Kami memberikan jaminan kepada para mitra bahwa listrik yang dihasilkan akan diambil oleh PLN sebagai offtaker. Para mitra tidak perlu khawatir, komitmen jangka panjang PLN sudah teruji di berbagai sektor pembangkit lainnya yang bahkan memiliki PPA lebih dari 30 tahun," ujar Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, Selasa (21/7/2026).
Merespons tingginya minat pasar, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, memastikan pemerintah bergerak cepat menyederhanakan regulasi. Dari yang semula ratusan aturan, kini hanya tersisa tiga.
"Tugas saya cuma satu, regulasi diperbaiki. Dari ratusan tinggal tiga aturan. Kalau ada hambatan, saya tinggal undang. Kalau masih tidak bisa saya atasi, saya lapor. Presiden yang memimpin," tegas Zulkifli.
Antusiasme investor pun tak main-main. Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa proyek ini disebut sebagai proyek pengelolaan sampah menjadi energi terbesar di dunia. Banyak institusi finansial global dan nonbank himbara ikut berebut menanamkan modal.
"Alhamdulillah banyak sekali interest baik dari luar negeri dan juga dari dalam negeri. Semua partisipan semangat masuk ke proyek ini. Jadi, proyek ini secara akumulatif memang proyek waste to energy terbesar di dunia," kata Pandu.
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menambahkan bahwa proyek ini tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru lewat perdagangan karbon. Keberhasilan daerah menekan emisi dari sektor limbah akan dikonversi menjadi komoditas bernilai tinggi yang diakui negara.
"Begitu Bapak mengurangi emisi 20 juta ton, ya mungkin Rp 100 miliar - Rp 150 miliar bisa dapat karena dijual di pasar karbon. Nanti, dari KLHK akan dapat Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia dan itu dijual di pasar karbon," jelas Jumhur.
PLN menegaskan kesiapannya menyerap daya listrik dari para mitra untuk memperkuat portofolio energi baru terbarukan. Suroso menyebut PSEL menjadi angin segar bagi ekosistem ketenagalistrikan nasional karena mampu mengatasi darurat sampah sekaligus mendukung transisi energi.
"Dalam konteks transisi energi dari berbasis termal ke energi baru terbarukan, PSEL menambah portofolio sumber energi kami sekaligus mengatasi darurat sampah. Karena itu, jika perlu program ini diterapkan di semua kota di Indonesia, PLN sangat siap," pungkas Suroso.
Ke depan, proyek yang didukung Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 ini diharapkan menjadi solusi taktis mempercepat target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060, sekaligus mengakhiri status darurat sampah di berbagai daerah.