ACEH — Raksasa teknologi berusia 115 tahun ini mencatatkan pendapatan USD 17,2 miliar dengan laba kotor USD 9,9 miliar (margin 58%) dan laba bersih USD 2,2 miliar pada kuartal tersebut. Namun, angka-angka itu masih gagal memenuhi target analis Wall Street. Kekhawatiran sudah muncul lebih awal ketika Krishna menerbitkan "surat untuk investor" pekan lalu, memperingatkan pendapatan infrastruktur yang suram dan margin laba yang tertekan. Saham IBM langsung ambruk 25%—penurunan satu hari terbesar sepanjang sejarah perusahaan.
Ironisnya, penyebab utama penurunan ini justru berasal dari tren yang sama yang sebelumnya mendongkrak performa IBM di bawah kepemimpinan Krishna selama enam tahun: ledakan pusat data AI. "When they were faced with that issue, then they decided to move budget to those areas where they were having that extreme price," jelas Krishna dalam panggilan dengan investor, merujuk pada kenaikan biaya komponen seperti memori yang mencapai 15% hingga 30%.
Kenaikan biaya ini memaksa perusahaan enterprise seperti Dell, HP, dan bahkan Apple menaikkan harga produk mereka. Akibatnya, "puluhan" pelanggan yang seharusnya membeli mainframe baru memilih mengalihkan anggaran ke perangkat keras lain yang harganya melonjak. Padahal, satu sistem mainframe bisa berharga ratusan ribu hingga jutaan dolar, belum termasuk kontrak perangkat lunak dan pemeliharaan yang bernilai jauh lebih besar.
Masalah ini bersifat kaskade karena model bisnis IBM tidak hanya mengandalkan penjualan hardware. CFO Jim Kavanaugh mengungkapkan bahwa untuk setiap USD 1 penjualan mainframe, IBM meraup USD 3 dari pendapatan software. Dengan penurunan 42% penjualan mainframe, pendapatan software ikut terpukul. IBM pun menurunkan proyeksi pertumbuhan setahun penuh, menandakan bahwa dampak kuartal buruk ini akan terasa hingga akhir tahun.
Meski menghadapi tekanan, manajemen IBM bersikeras bahwa perlambatan ini bersifat sementara. Krishna menyebut bahwa beberapa pelanggan yang menunda pembelian sudah mulai memesan mainframe baru di kuartal ini. "We see no evidence of clients moving off the mainframe," tegasnya.
Keyakinan ini bukan tanpa dasar. Selama beberapa dekade, industri teknologi sudah berulang kali memprediksi kematian mainframe, namun sistem ini masih bertahan. Pertanyaannya sekarang: apakah AI akhirnya akan menjadi ancaman yang nyata, atau hanya gangguan sementara bagi tulang punggung komputasi enterprise ini?