BANDA ACEH — Ancaman kekeringan meteorologis mulai membayangi sebagian besar wilayah Aceh. Analis Stasiun Klimatologi BMKG Aceh, Harisa Bilhaqqi Qalbi, mengungkapkan bahwa akumulasi curah hujan yang rendah pada dasarian II Juli telah menciptakan kondisi awal yang kering.
Berdasarkan hasil pemodelan atmosfer BMKG, daerah dengan peluang curah hujan sangat rendah—antara 0 hingga 50 milimeter per dasarian—meliputi Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, bagian utara Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, bagian utara Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
“Masih ada sekitar 31 persen curah hujan di bawah 50 mm (rendah) yang diindikasikan akan berlanjut tanpa hujan hingga akhir bulan,” kata Harisa di Banda Aceh, Kamis (23/7/2026).
Meski demikian, situasi tidak seragam di seluruh Aceh. Sebanyak 69 persen wilayah pesisir barat dan selatan diprediksi masih menerima curah hujan kategori menengah, berkisar 51 hingga 150 milimeter per dasarian.
Curah hujan di atas 50 milimeter masih berpotensi terjadi di Aceh Timur bagian selatan, Kota Langsa, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, serta Kabupaten Simeulue. Peluangnya bahkan mencapai lebih dari 70 persen.
BMKG menyebut puncak musim kemarau di Aceh telah diprakirakan terjadi pada Juli di sebagian besar zona musim. Satu zona musim lainnya diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026.
“Perlindungan sektor pertanian mutlak dan segera diperlukan untuk wilayah pesisir utara. Sedangkan pesisir selatan relatif aman karena masih menerima pasokan curah hujan yang memadai,” tutup Harisa.
Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau mengaktifkan sistem peringatan dini, menggalakkan penghematan air, dan menyiapkan bantuan untuk petani yang lahannya terancam gagal panen akibat kekeringan.