Pengeluaran Warga Aceh Tamiang Tembus Rp1,19 Juta per Bulan pada 2025, Paling Banyak untuk Makanan

Penulis: Teuku Fahreza  •  Senin, 27 Juli 2026 | 21:32:31 WIB
Rata-rata pengeluaran per kapita warga Aceh Tamiang pada 2025 mencapai Rp1,19 juta per bulan, dengan dominasi belanja makanan sebesar Rp660.832.

KUALA SIMPANG — Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan pola konsumsi rumah tangga di Aceh Tamiang masih didominasi oleh pengeluaran pangan. Sepanjang 2025, warga rata-rata membelanjakan Rp660.832 per bulan untuk makanan dan Rp527.657 untuk kebutuhan bukan makanan.

Kenaikan pengeluaran total tercatat sebesar Rp33.006 per kapita per bulan dari posisi 2024 yang sebesar Rp1,16 juta. Meski secara nominal meningkat, komposisi belanja ini mengindikasikan tingkat kesejahteraan yang masih perlu ditingkatkan.

Porsi Belanja Pangan Masih Dominan, Tanda Daya Beli Terbatas?

Dalam teori ekonomi klasik Hukum Engel, semakin besar porsi pengeluaran untuk makanan, semakin rendah tingkat kesejahteraan rumah tangga. Aceh Tamiang mencatatkan proporsi 55,6 persen untuk pangan, yang berarti masih di atas batas ideal.

Angka ini menempatkan Kabupaten Aceh Tamiang di peringkat ke-19 dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh berdasarkan besaran pengeluaran per kapita. Secara nasional, daerah ini berada di posisi ke-426 dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia.

Perbandingan Pengeluaran Dua Tahun Terakhir

Data BPS yang diperbarui pada 27 Juli 2026 menunjukkan tren pengeluaran yang konsisten naik dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, pengeluaran per kapita tercatat Rp1.155.484, dengan komposisi Rp640.785 untuk makanan dan Rp514.699 untuk non-makanan.

Pada 2025, pengeluaran non-makanan tumbuh lebih cepat dibandingkan makanan. Kenaikan belanja non-makanan mencapai 2,52 persen, sementara makanan naik 3,13 persen. Artinya, warga mulai mengalokasikan lebih banyak untuk kebutuhan seperti perumahan, pendidikan, dan transportasi.

Mengapa Data Ini Penting bagi Warga dan Pemda

Angka pengeluaran per kapita menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur daya beli masyarakat. Bagi pemerintah daerah, data ini bisa menjadi dasar evaluasi kebijakan bantuan sosial, pengendalian inflasi, dan program pemberdayaan ekonomi.

Kepala BPS Aceh dalam laporan sebelumnya menekankan bahwa survei Susenas dilakukan secara berkala untuk memotret perubahan pola konsumsi rumah tangga. Data terbaru ini juga akan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2030.

Bagaimana Posisi Aceh Tamiang di Tingkat Provinsi?

Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, hanya empat daerah yang memiliki pengeluaran per kapita lebih rendah dari Aceh Tamiang. Kota Banda Aceh, Kota Langsa, dan Kota Lhokseumawe menduduki peringkat teratas dengan pengeluaran di atas Rp2 juta per bulan.

Kondisi ini menunjukkan disparitas ekonomi yang masih cukup lebar antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Aceh. Aceh Tamiang yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara memiliki potensi ekonomi yang belum sepenuhnya tergarap.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: databoks.katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top