MEULABOH — Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Aceh Barat melanda enam kecamatan sekaligus, meliputi Meureubo, Samatiga, Johan Pahlawan, Woyla Barat, Bubon, dan Arongan Lambalek. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 21 hektare, mencakup kawasan hutan, lahan terbuka, dan sebagian kebun kelapa sawit.
Hingga saat ini, penyebab maupun sumber awal kebakaran masih dalam penyelidikan. Tim gabungan dari BPBD, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, relawan, serta masyarakat setempat terus berupaya memadamkan titik-titik api yang tersebar.
Kondisi medan yang sulit dijangkau menjadi kendala utama di lapangan. Selain itu, keterbatasan sumber air turut memperlambat proses pemadaman, apalagi cuaca panas yang dipengaruhi musim kemarau membuat api cepat menjalar ke berbagai arah.
“Terus melakukan berbagai upaya untuk memadamkan beberapa titik api yang masih menjalar. Namun sebagian lokasi sudah berhasil dipadamkan,” tutur Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Aceh Barat Teuku Ronald Neh Diansyah.
BNPB mengerahkan personel tambahan untuk membantu proses pemadaman agar kobaran api tidak merambat hingga ke kawasan permukiman warga. Tim juga mengoperasikan drone thermal untuk memantau titik-titik api dari udara.
Pemantauan menggunakan drone tersebut bertujuan memudahkan identifikasi lokasi kebakaran secara lebih akurat. Data yang diperoleh diharapkan mendukung efektivitas operasi pemadaman, termasuk jika diperlukan pelaksanaan water bombing.
Kebakaran yang masih berlangsung menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Jarak pandang menurun drastis, terutama pada malam hari, sehingga membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Kabut asap dilaporkan mulai mengganggu kenyamanan warga dan mengurangi jarak pandang pengendara sepeda motor maupun mobil di ruas jalan sekitar Kota Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat.
Tim gabungan masih bersiaga di lokasi untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, terutama di titik-titik yang rawan menjalar ke permukiman penduduk.