ACEH — Mencari aplikasi meditasi di App Store sering kali berakhir dengan kekecewaan. Aplikasi gratis biasanya dipenuhi iklan atau fitur berbayar yang muncul setelah masa percobaan 30 hari. Sementara aplikasi berbayar kadang tampilannya tidak sesuai atau terlalu rumit untuk sekadar kebutuhan dasar: sebuah timer hitung mundur 10 menit dengan visual menenangkan.
Kondisi ini dialami langsung oleh seorang jurnalis teknologi dari Tom's Guide. Ia mengaku sudah berhenti mencari aplikasi meditasi yang sempurna dan memilih jalan pintas: membuat aplikasinya sendiri dengan bantuan kecerdasan buatan.
Langkahnya sederhana. Ia membuka Google AI Studio di MacBook, mengetik permintaan dalam bahasa Inggris: "Saya ingin aplikasi timer meditasi yang menghitung mundur dari 10 menit saat tombol ditekan. Aplikasi ini harus memiliki grafis menenangkan dan memutar musik lembut."
AI Studio langsung memberi saran tambahan, seperti menambahkan opsi kustomisasi suara latar dan durasi sesi. Saran itu diterima. Dalam 38 detik, muncul pratinjau desain antarmuka. Setelah disetujui, aplikasi langsung jadi dengan total waktu produksi 238 detik.
Fitur yang dihasilkan di luar dugaan. Selain timer utama, aplikasi ini punya pilihan tema visual, pengatur waktu masuk (lead-in), panduan pernapasan, dan lonceng interval. Semua tersusun rapi tanpa membuat tampilan utama terasa penuh.
Aplikasi yang dibuat di AI Studio bukan aplikasi native seperti di App Store. Hasilnya berupa aplikasi web yang dipublikasikan ke alamat URL unik. Untuk mengaksesnya di iPhone, pengguna cukup membuka tautan tersebut di browser.
Ada satu kendala teknis yang ditemukan: Safari di iOS memblokir cookie pihak ketiga secara default melalui fitur Intelligent Tracking Prevention (ITP). Ini menyebabkan aplikasi tidak berjalan normal di Safari. Solusinya mudah, buka Settings > Apps > Safari lalu matikan opsi Prevent Cross-Site Tracking.
Setelah itu, aplikasi bisa ditambahkan ke layar utama melalui menu Share > Add to Home Screen. Ikon aplikasi pun muncul di Home Screen dan bisa dibuka seperti aplikasi biasa tanpa elemen browser.
Perlu dicatat, hasil dari AI Studio bukan pengganti aplikasi native yang mulus dan teroptimasi penuh. Ini masih berupa aplikasi web dengan keterbatasan untuk proyek yang lebih kompleks. Namun untuk kebutuhan personal seperti timer meditasi, hasilnya sudah lebih dari cukup.
Pendekatan ini membuka opsi baru bagi pengguna yang selama ini menerima kekurangan aplikasi atau terus mencari alternatif. Kini ada pilihan ketiga: mendeskripsikan aplikasi yang diinginkan, membiarkan AI membangunnya, dan langsung memakainya dalam hitungan menit.
Bagi pengguna di Indonesia yang tertarik mencoba, tidak perlu keahlian coding. Cukup siapkan deskripsi kebutuhan, buka Google AI Studio, dan biarkan AI mengerjakan sisanya. Hasilnya mungkin bukan aplikasi kelas App Store, tapi untuk kebutuhan spesifik dan personal, ini jalan pintas yang layak dipertimbangkan.