BIREUEN — Lampu aula Pesantren Modern Al Zahrah sengaja diredupkan Sabtu (1/8/2026) malam. Barisan kursi penuh sesak oleh wali santri, guru, dan seluruh santri. Di depan panggung, deretan plakat akrilik dan piala tertata rapi menanti nama-nama para peraih prestasi.
Malam itu menjadi sejarah bagi pesantren yang berlokasi di Kabupaten Bireuen ini. Untuk pertama kalinya, Al Zahrah Awards digelar sebagai puncak apresiasi atas proses belajar yang berlangsung setahun penuh.
Penghargaan diberikan kepada santri dan guru yang menorehkan prestasi di bidang literasi, olahraga, seni, sains, bahasa, dan public speaking sepanjang tahun ajaran 2025/2026. Cakupan prestasi tersebut meliputi tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Sebanyak 44 santri peraih peringkat kelas menerima penghargaan. Selain itu, 12 santri berprestasi hafalan mufradat, 8 kelompok juara la’bu sighar, dan 7 kelompok juara ketangkasan baris berbaris juga naik ke panggung. Total 19 santri lainnya mendapatkan apresiasi atas prestasi yang diraih di luar pesantren.
Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa penghargaan ini jauh dari sekadar formalitas.
“Pemberian Al Zahrah Awards merupakan bentuk apresiasi dan upaya merawat semangat juang para santri dalam belajar, serta bersaing baik di tingkat provinsi maupun nasional,” ujarnya.
Sebelas guru juga menerima plakat akrilik dalam malam puncak tersebut. Mereka adalah Jumiati, S.Pd; Zuhera, S.Pd; Fitri Gustika, S.Pd; Faizah, S.Pd; Nani Andriani, S.Pd; Juarnida, S.Pd; Rauzatul Jannah, S.Pd; Munawar, S.Pd; Raudhatul Jannah, S.Pd; Nuramalia Jafar, S.Pd; dan Ikhwan Ramadhana, M.Ag.
Bagi pesantren, guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas. Mereka adalah motor penggerak dan teladan bagi para santri. Tgk. Fadhil menambahkan, prestasi tidak boleh berhenti pada angka semata.
“Ia harus diingat, dirayakan, lalu dijadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Oleh karena itu, pesantren patut mengapresiasi semua pihak yang telah mengharumkan nama pesantren,” tambahnya.
Penghargaan khusus diberikan kepada dua santri dengan nilai tertinggi pada semester dua. Muhammad Luthfi meraih nilai rata-rata 8,53 dan Aufaturrima dengan nilai rata-rata 8,29. Keduanya berhak menerima beasiswa berupa pembebasan iuran bulanan selama tiga bulan.
Asisten III bidang Administrasi Umum Kabupaten Bireuen, Zamzami, S.Pd., M.M., yang hadir mewakili pemerintah daerah, menyebut apresiasi penting untuk memberikan penghormatan atas pencapaian yang telah diraih. Menurutnya, kegiatan seperti ini merupakan bagian penting dari pengembangan diri santri dan guru sebagai penggerak pendidikan.
Acara yang dimulai pukul 21.00 WIB itu turut dihadiri Kadis Pendidikan Dayah Bireuen Anwar, S.Ag., M.A.P., Anggota DPRK Bireuen Sufyannur, S.E., Kadis Syariat Islam Kabupaten Bireuen Munawar, SKM., M.Kes., serta para orang tua santri. Tarian Ranup Lampuan dari santri putri kelas 2 KMI menyambut para tamu di kursi kehormatan sebelum acara resmi dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sulhan Ariska.
Di akhir malam, piala dan plakat-plakat itu dibawa pulang oleh para santri dan guru. Menjadi bukti bahwa cita-cita dan prestasi adalah buah dari proses, bukan kebetulan belaka.