BANDA ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat tambahan 10.400 penduduk miskin baru di provinsi itu, menjadikan total angka kemiskinan mencapai 713.780 orang pada Maret 2026. Angka ini naik dibandingkan posisi September 2025 yang tercatat 703.330 orang.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengungkapkan bahwa pengukuran data kemiskinan bersumber dari Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas). Momen pendataan berlangsung saat Aceh baru saja dilanda bencana hidrometeorologi.
Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada November 2025 lalu disebut menjadi pemicu utama lonjakan angka kemiskinan ini. Agus Andria menjelaskan bahwa kerusakan akibat bencana tersebut cukup parah, dan hingga periode pendataan Maret 2026, sebagian besar daerah masih berada dalam proses rehabilitasi atau pemulihan.
Kondisi ini berbanding lurus dengan kenaikan garis kemiskinan yang menjadi acuan pengukuran. Pada Maret 2026, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp742.464 per kapita per bulan, mengalami kenaikan 3,83 persen dibandingkan September 2025.
Berdasarkan data BPS Aceh, persentase penduduk miskin di daerah pedesaan tercatat mengalami kenaikan dari 14,51 persen pada September 2025 menjadi 14,66 persen pada Maret 2026. Sementara itu, di daerah perkotaan juga naik dari 8,15 persen menjadi 8,27 persen pada periode yang sama.
Meski angka kemiskinan naik, indikator ketimpangan justru menunjukkan perbaikan di perdesaan. Gini ratio perdesaan pada Maret 2026 turun ke angka 0,221 dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,225. Sebaliknya, gini ratio perkotaan justru memburuk dengan naik dari 0,316 menjadi 0,323.
BPS Aceh juga mencatat adanya penurunan pada Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada Maret 2026. Indeks Kedalaman Kemiskinan berubah dari 2,055 pada September 2025 menjadi 1,961 pada Maret 2026.
Adapun Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami perubahan dari 0,523 menjadi 0,460 pada periode yang sama. Menurut Agus Andria, penurunan nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dibandingkan kondisi September 2025.
"Penurunan Indeks Keparahan Kemiskinan mengindikasikan bahwa ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin cenderung semakin rendah," katanya di Banda Aceh, Rabu.