BANDA ACEH — MTsN 2 Banda Aceh kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu sekolah paling produktif di Aceh dalam mencetak penulis muda. Sebanyak tujuh buku karya siswa dan guru resmi diluncurkan dalam sebuah acara yang dirangkaikan dengan bedah buku di lingkungan madrasah setempat, Selasa (4/8).
Lima dari tujuh buku tersebut merupakan karya siswa, mulai dari cerita pendek, komik, hingga novel remaja. Dua buku lainnya lahir dari tangan para guru, membuktikan bahwa budaya menulis di madrasah ini tidak hanya digalakkan di kalangan peserta didik, tetapi juga tenaga pendidik.
Capaian ini bukan yang pertama kalinya. Pada tahun sebelumnya, MTsN 2 Banda Aceh berhasil mendampingi para siswanya menerbitkan delapan judul buku. Konsistensi ini menjadikan madrasah tersebut sebagai rujukan bagi sekolah lain yang ingin membangun ekosistem literasi serupa.
Ketua panitia peluncuran buku, Teuku Rizal Fahmi, M.Pd, merinci judul-judul yang diluncurkan pada kegiatan tersebut. Dari lima buku siswa, terdapat karya berjudul Harsa oleh Putri Prameswari, Kenzo oleh Mulizar, Kucing yang Berbicara dengan Bintang karya Almira Kayana, Bangkit dari Kehancuran oleh Tania, serta Bagaimana Cintanya Ibu dari Anisah Sabirah.
Sementara itu, dua buku guru yang turut diluncurkan adalah Duhai Allahku karya Olivia Phonna dan Literasi Moderasi Beragama yang ditulis Fauziah. Seluruh buku tersebut diterbitkan dengan pendampingan Bandar Publishing dan dukungan Universitas Syiah Kuala.
Teuku Rizal menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membangun kompetensi esensial di era digital. Ia menyebut kemampuan menulis bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan sarana membentuk rasa percaya diri dan keberanian menyampaikan gagasan.
“Kemampuan menulis adalah kompetensi penting di era digital. Alhamdulillah, selama dua tahun terakhir kami mampu mendampingi siswa kami menghasilkan buku. Capaian ini tentu tidak terlepas dari dukungan Kepala Madrasah, Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala, serta Bandar Publishing yang terus membersamai proses ini hingga penerbitan bukunya,” ujar Teuku Rizal, Jumat (7/8).
Senada dengan itu, Ketua IKAPI Aceh Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M.Pd, yang hadir sebagai pembedah buku, menilai langkah MTsN 2 Banda Aceh sebagai contoh konkret yang patut ditiru. Ia menyebut penerbitan buku di usia sekolah merupakan investasi intelektual yang dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.
“Menerbitkan buku di usia sekolah adalah investasi intelektual jangka panjang. Anak-anak ini sedang belajar berpikir sistematis, menyampaikan gagasan, dan meninggalkan jejak pengetahuan. Mereka bukan sekadar siswa, tetapi calon penulis, akademisi, pemimpin, dan penggerak perubahan di masa depan,” katanya dalam sesi bedah buku.
Plt Kepala MTsN 2 Banda Aceh, Erma Suryani, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas dedikasi para siswa dan guru. Ia berharap capaian dua tahun berturut-turut ini dapat memicu semangat warga madrasah untuk terus berkarya.
“Kami sangat bangga karena selama dua tahun berturut-turut siswa MTsN 2 Banda Aceh mampu melahirkan buku-buku fiksi, komik, cerita pendek, hingga karya inspiratif lainnya. Ini merupakan pencapaian luar biasa yang harus terus dijaga. Kami berharap tahun depan semakin banyak siswa yang berani menulis dan menerbitkan buku,” ujarnya.
Kegiatan peluncuran tersebut turut dihadiri Sariati, S.E., perwakilan Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banda Aceh. Kehadiran perwakilan Kemenag menegaskan dukungan institusi terhadap pengembangan literasi di lingkungan madrasah.
Prof. Dr. Sulaiman Tripa dari Universitas Syiah Kuala, yang juga bertindak sebagai pembedah, menekankan nilai fundamental dari setiap buku yang lahir. Menurutnya, sebuah karya tulis adalah warisan yang terus hidup melampaui usia penulisnya.
“Kita berharap tradisi menulis terus tumbuh di sekolah-sekolah. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membentuk karakter, nalar kritis, serta kemampuan menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Dengan pendampingan yang tepat dan kolaborasi antarlembaga, program ini membuktikan bahwa madrasah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis produktif. Gerakan ini diharapkan menginspirasi lebih banyak sekolah di Aceh untuk menjadikan literasi sebagai fondasi lahirnya generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.