MEULABOH — Sebanyak puluhan sarjana dari Universitas Teuku Umar (UTU) resmi ditugaskan mendampingi masyarakat di gampong-gampong sasaran Kabupaten Aceh Barat melalui program Sarjana Membangun Desa (Rajadesa) 2026. Mereka dilepas langsung oleh Bupati Aceh Barat Tarmizi bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pimpinan UTU di Aula Cut Nyak Dhien, BAPPEDA Aceh Barat, Kamis (6/8/2026).
Kehadiran para pendamping ini diharapkan menjadi jembatan antara riset akademik dan kebutuhan riil warga di lapangan. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum UTU, Dr. Mursyidin, MA., menyebut kolaborasi ini adalah modal penting untuk membangun desa yang mandiri dan produktif.
Bupati Aceh Barat Tarmizi mengarahkan para peserta Rajadesa untuk berkonsentrasi pada dua sektor yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Pertama, penguatan potensi ekonomi lokal dan produk unggulan di tiap gampong. Kedua, peningkatan pemahaman warga tentang pola hidup sehat dan langkah preventif terhadap penyakit.
“Program Rajadesa ini kita harapkan dapat berkontribusi bagi daerah terutama dalam mengangkat potensi ekonomi lokal dan produk-produk lokal yang ada di setiap gampong di Aceh Barat,” ujar Tarmizi di hadapan para peserta, Kamis.
Menurutnya, pendampingan dari para sarjana diharapkan mampu mendorong warga mengembangkan produk unggulan masing-masing. Dampaknya, roda ekonomi di tingkat gampong bisa bergerak lebih cepat dan berkelanjutan.
Di sektor kesehatan, para peserta diminta aktif memberikan edukasi. Mereka tidak hanya fokus pada penanganan penyakit, tetapi juga mendorong kesadaran warga untuk menerapkan gaya hidup sehat sejak dini.
Dr. Mursyidin, yang membacakan amanat Rektor UTU, menegaskan bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak hanya berhenti di ruang kelas. Melalui visi Smart Campus Excellence menuju UTU Gemilang, kampus terus mendorong pembangunan di kawasan Barat Selatan Aceh.
“Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah merupakan modal penting dalam mewujudkan pembangunan yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan,” kata Mursyidin.
Para sarjana yang ditempatkan di gampong berperan sebagai penghubung antara hasil riset kampus dengan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik bisa langsung diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
“Kami percaya bahwa kolaborasi yang baik antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat akan melahirkan desa-desa yang mandiri, produktif, dan berdaya saing,” tuturnya.
Setelah prosesi pelepasan, para peserta langsung bergerak menuju gampong-gampong yang telah ditentukan. Mereka akan menjalankan pendampingan masyarakat secara berkelanjutan dengan mengoptimalkan potensi lokal yang ada.
Program ini menjadi bagian dari upaya Pemkab Aceh Barat mempercepat pembangunan dari tingkat desa. Dengan dukungan penuh dari UTU, diharapkan setiap gampong di Aceh Barat mampu berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki daya saing yang kuat.