ACEH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya sebaran asap yang diduga berasal dari karhutla di sejumlah titik di Sumatera Selatan. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran asap tersebut terdeteksi hingga melingkupi wilayah Palembang dan sekitarnya.
Pantauan satelit meteorologi Himawari-9 yang dioperasikan BMKG menunjukkan kolom asap tebal yang persisten di atas langit Sumatera Selatan. Deteksi ini menjadi indikator awal adanya titik panas yang berkembang menjadi kebakaran lahan, terutama di area gambut yang mudah terbakar pada musim kemarau.
Data satelit tersebut menjadi acuan utama BMKG untuk memetakan arah pergerakan asap. Informasi ini krusial bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan darurat, termasuk potensi penerapan modifikasi cuaca untuk mempercepat hujan buatan.
Masifnya sebaran asap berimplikasi langsung pada penurunan kualitas udara di Palembang. Konsentrasi partikel halus (PM2.5) berpotensi meningkat hingga melampaui ambang batas baku mutu udara ambien nasional, yang berisiko memicu gangguan ISPA bagi warga.
Selain berdampak pada kesehatan, kabut asap juga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Jarak pandang horizontal yang menurun drastis dapat menyebabkan penundaan jadwal keberangkatan maupun pendaratan pesawat jika kondisi memburuk.
Temuan dari citra satelit ini menjadi dasar bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Sumatera Selatan untuk memobilisasi personel di lapangan. Operasi pemadaman difokuskan pada titik-titik panas yang teridentifikasi memiliki potensi penyebaran api terluas.
Upaya pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing juga disiagakan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk mengendalikan api sebelum asap semakin tebal dan meluas ke permukiman warga.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas. Laporan perkembangan sebaran asap akan terus diperbarui secara berkala melalui kanal resmi BMKG.