Inflasi Aceh Juli 2026 Tembus 4,22 Persen, BI Lhokseumawe: Beras dan Cabai Jadi Biang Kerok

Penulis: Zulkifli Arief  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:58:31 WIB
Petugas menunjukkan harga beras dan cabai di pasar tradisional di Lhokseumawe, Aceh, yang menjadi penyumbang utama inflasi Juli 2026.

LHOKSEUMAWE — Tekanan inflasi di Provinsi Aceh kembali meningkat pada Juli 2026 setelah sempat melandai pada periode Februari hingga April. Berakhirnya musim panen raya membuat pasokan gabah dan cabai berkurang, sehingga harga kedua komoditas strategis itu merangkak naik di sejumlah daerah.

Yudo Herlambang memaparkan, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Aceh Tengah yang mencapai 0,71 persen, disusul Aceh Tamiang 0,50 persen, dan Kota Lhokseumawe 0,24 persen. Adapun inflasi tahunan di Aceh Tengah tercatat 7,25 persen, Aceh Tamiang 6,91 persen, dan Kota Lhokseumawe 5,33 persen.

Beras dan Cabai Dominasi Penyumbang Inflasi di Tiga Kota IHK

Di Kota Lhokseumawe, kenaikan harga beras, semen, nasi dengan lauk, ikan goreng, dan tomat menjadi pendorong utama inflasi. Sementara di Aceh Tengah, komoditas penyumbang inflasi antara lain bensin, cabai merah, tomat, cabai rawit, dan beras.

Untuk Aceh Tamiang, inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga beras, cabai rawit, semen, ikan bandeng, serta daging ayam ras. Yudo menjelaskan, berkurangnya pasokan gabah di tingkat petani setelah panen menjadi penyebab utama harga beras naik.

"Kenaikan harga beras dipengaruhi berkurangnya pasokan gabah di tingkat petani setelah musim panen berakhir. Selain itu, harga aneka cabai juga meningkat seiring dimulainya kembali musim tanam di sejumlah daerah sentra produksi," ungkap Yudo saat kegiatan Temu Media di Kantor BI Lhokseumawe.

Bawang Merah dan Telur Ayam Jadi Penahan Laju Inflasi

Meski tekanan harga pangan meningkat, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan membantu meredam inflasi. Di Kota Lhokseumawe, deflasi berasal dari emas perhiasan, bawang merah, ikan tongkol, telur ayam ras, dan cabai merah.

Untuk Aceh Tengah, penurunan harga ikan bandeng, biaya pendidikan SMA, bawang merah, emas perhiasan, serta telur ayam ras menahan laju inflasi. Sementara di Aceh Tamiang, deflasi dipengaruhi oleh penurunan harga bawang merah, ikan biji nangka, ikan tongkol, cabai merah, dan ikan dencis.

Yudo menambahkan, melimpahnya pasokan bawang merah dan menurunnya permintaan telur ayam ras selama libur sekolah menjadi faktor utama peredam tekanan inflasi pada Juli 2026.

BI Dorong Penguatan Sinergi Antardaerah untuk Jaga Stabilitas Harga

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Fokus utama pengendalian diarahkan pada komoditas pangan strategis seperti beras, cabai, dan bawang merah agar inflasi tetap terkendali dalam jangka menengah.

"Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, tentunya diperlukan penguatan sinergi antardaerah terutama dengan daerah yang memiliki potensi sebagai sentra produksi pangan. Upaya ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, juga membuka peluang pengembangan ekonomi dan hilirisasi di daerah," ucap Yudo.

Perkembangan inflasi pangan menjadi perhatian utama karena berpotensi menggerus daya beli masyarakat. BI Lhokseumawe mencermati komoditas volatile food, khususnya beras dan aneka cabai, sebagai prioritas dalam pengendalian inflasi di wilayah kerjanya.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: portalsatu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top