LHOKSEUMAWE — Tekanan inflasi di Provinsi Aceh kembali meningkat pada Juli 2026 setelah sempat melandai pada periode Februari hingga April. Berakhirnya musim panen raya membuat pasokan gabah dan cabai berkurang, sehingga harga kedua komoditas strategis itu merangkak naik di sejumlah daerah.
Yudo Herlambang memaparkan, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Aceh Tengah yang mencapai 0,71 persen, disusul Aceh Tamiang 0,50 persen, dan Kota Lhokseumawe 0,24 persen. Adapun inflasi tahunan di Aceh Tengah tercatat 7,25 persen, Aceh Tamiang 6,91 persen, dan Kota Lhokseumawe 5,33 persen.
Di Kota Lhokseumawe, kenaikan harga beras, semen, nasi dengan lauk, ikan goreng, dan tomat menjadi pendorong utama inflasi. Sementara di Aceh Tengah, komoditas penyumbang inflasi antara lain bensin, cabai merah, tomat, cabai rawit, dan beras.
Untuk Aceh Tamiang, inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga beras, cabai rawit, semen, ikan bandeng, serta daging ayam ras. Yudo menjelaskan, berkurangnya pasokan gabah di tingkat petani setelah panen menjadi penyebab utama harga beras naik.
"Kenaikan harga beras dipengaruhi berkurangnya pasokan gabah di tingkat petani setelah musim panen berakhir. Selain itu, harga aneka cabai juga meningkat seiring dimulainya kembali musim tanam di sejumlah daerah sentra produksi," ungkap Yudo saat kegiatan Temu Media di Kantor BI Lhokseumawe.
Meski tekanan harga pangan meningkat, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan membantu meredam inflasi. Di Kota Lhokseumawe, deflasi berasal dari emas perhiasan, bawang merah, ikan tongkol, telur ayam ras, dan cabai merah.
Untuk Aceh Tengah, penurunan harga ikan bandeng, biaya pendidikan SMA, bawang merah, emas perhiasan, serta telur ayam ras menahan laju inflasi. Sementara di Aceh Tamiang, deflasi dipengaruhi oleh penurunan harga bawang merah, ikan biji nangka, ikan tongkol, cabai merah, dan ikan dencis.
Yudo menambahkan, melimpahnya pasokan bawang merah dan menurunnya permintaan telur ayam ras selama libur sekolah menjadi faktor utama peredam tekanan inflasi pada Juli 2026.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Fokus utama pengendalian diarahkan pada komoditas pangan strategis seperti beras, cabai, dan bawang merah agar inflasi tetap terkendali dalam jangka menengah.
"Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, tentunya diperlukan penguatan sinergi antardaerah terutama dengan daerah yang memiliki potensi sebagai sentra produksi pangan. Upaya ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, juga membuka peluang pengembangan ekonomi dan hilirisasi di daerah," ucap Yudo.
Perkembangan inflasi pangan menjadi perhatian utama karena berpotensi menggerus daya beli masyarakat. BI Lhokseumawe mencermati komoditas volatile food, khususnya beras dan aneka cabai, sebagai prioritas dalam pengendalian inflasi di wilayah kerjanya.