21 Tahun Pasca MoU Helsinki, Praktisi Seni Aceh Soroti Standar yang Diam-diam Turun di Kampus dan Tempat Kerja

Penulis: Teuku Fahreza  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 12:50:01 WIB
Mahasiswa Aceh menghadiri kuliah di kampus Banda Aceh, Senin (12/5/2025).

BANDA ACEH — Dua puluh satu tahun setelah penandatanganan MoU Helsinki, pertanyaan tentang masa depan Aceh tidak lagi berhenti pada apa yang hendak diwariskan kepada generasi yang lahir pascakonflik. Ari J. Palawi, praktisi dan akademisi seni dari Aneuk Mukim Kayee Adang, menilai ada persoalan yang lebih dekat dengan keseharian anak muda: siapa yang sebenarnya membentuk cara mereka berpikir, bekerja, dan menilai keberhasilan.

Menurut Ari, anak muda tidak tumbuh di ruang kosong. Mereka masuk ke kampus, tempat kerja, organisasi, dan ruang digital yang sudah memiliki ukuran penilaiannya sendiri. Lambat laun, lingkungan tersebut ikut menentukan pilihan dan standar mereka.

Mahasiswa Belajar Membaca Situasi, Bukan Menguasai Ilmu

Ari menyoroti bagaimana mahasiswa kerap menemukan bahwa nilai bagus lebih mudah dikejar daripada kemampuan yang sungguh-sungguh. Sertifikat lebih mudah dipamerkan daripada proses belajar, dan jabatan organisasi sering membawa akses yang tidak dimiliki orang paling mampu.

Ia menegaskan bahwa lingkungan seperti itu mengajarkan sesuatu meski tidak pernah masuk dalam kurikulum. Mahasiswa belajar apa yang harus dikerjakan agar lulus, siapa yang sebaiknya ditemui, dan kapan lebih aman untuk diam.

"Semua itu merupakan pendidikan. Pertanyaannya, pendidikan macam apa?" tulis Ari dalam tulisannya yang dikutip SAGOE TV.

Jabatan Bukan Kemampuan Memimpin, Sertifikat Bukan Penguasaan Pekerjaan

Kritik tajam ini muncul dari pengalamannya mengamati lingkungan kampus seni. Ari mengaku pernah menulis tentang standar yang diam-diam turun, di mana pekerjaan yang dulu dianggap belum selesai mulai diterima, kritik makin jarang, dan hasil yang biasa-biasa saja terasa cukup.

Ia mengingatkan bahwa ukuran seperti indeks prestasi, jumlah kegiatan organisasi, atau banyaknya pengikut di media sosial bukanlah cerminan kemampuan sejati. "Jabatan bukan kemampuan memimpin. Sertifikat bukan penguasaan pekerjaan," tegasnya.

Pertanyaan Kunci: Setelah Semua Tanda Dilepas, Apa yang Bisa Kita Kerjakan?

Ari menekankan pentingnya memiliki ukuran pribadi di tengah hiruk-pikuk pengakuan eksternal. Menurutnya, satu percakapan yang serius bisa lebih berarti daripada sepuluh acara, dan satu karya yang dikerjakan sampai tuntas lebih berguna daripada sederet pengalaman yang hanya berhenti pada dokumentasi.

Ia juga mengingatkan soal pemilihan lingkungan pertemanan dan profesional. "Setelah sering bertemu orang-orang ini, kemampuan saya bertambah atau saya hanya semakin dikenal?" ujarnya memberikan pertanyaan sederhana yang menurutnya lebih berguna ketika memilih lingkungan.

Praktisi seni ini berharap generasi muda Aceh tidak hanya mengejar tanda-tanda keberhasilan yang terlihat, tetapi juga membangun kapasitas yang sesungguhnya. Ia mengajak untuk menjaga jarak antara alat ukur dan kemampuan riil, serta berani mencari ruang belajar lain ketika lingkungan utama tidak memberi cukup kesempatan untuk bertumbuh.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: sagoetv.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top