ACEH — Kapolres Ende AKBP Yudhi Franata menyebut anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami tekanan psikologis pascagempa. Lewat trauma healing, Polri berupaya membangun kembali rasa aman yang sempat hilang saat bencana melanda.
"Anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus setelah mengalami situasi bencana. Melalui kegiatan trauma healing ini, kami berupaya membantu mereka mengelola rasa takut dan cemas, sehingga secara bertahap dapat kembali merasa aman dan menjalani aktivitas seperti biasa," ujar Yudhi, Senin (17/8/2026).
Pendampingan dilakukan oleh Aipda Yumias Markus Lete dan Brigpol Novi Asmiati, dua konselor yang telah menempuh pelatihan khusus dari Polda NTT. Sesi pemulihan dimulai sekitar pukul 16.30 WITA di pengungsian yang menampung warga terdampak.
Kegiatan ini menyasar anak-anak yang secara langsung merasakan guncangan gempa dan membutuhkan intervensi dini agar ketakutan tidak berlarut-larut. Polres Ende menurunkan personel khusus untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
Desa Lokoboko merupakan salah satu titik pengungsian mandiri yang didirikan warga setelah gempa mengguncang wilayah Flores. Kondisi darurat membuat anak-anak kehilangan rutinitas harian, termasuk bermain dan belajar, yang berdampak pada kondisi mental mereka.
Melalui pendekatan bermain dan interaksi positif, para konselor mencoba mencairkan ketegangan anak-anak secara bertahap. Metode ini dipilih karena dinilai efektif untuk kelompok usia anak yang sulit mengekspresikan kecemasan secara verbal.
Kegiatan trauma healing ini merupakan bagian dari tanggung jawab kepolisian dalam penanganan bencana, khususnya pemulihan kondisi sosial-psikologis warga. Polres Ende berkomitmen melanjutkan pendampingan selama masa tanggap darurat berlangsung.
Belum ada informasi resmi mengenai durasi total pendampingan psikologis di lokasi pengungsian. Namun, langkah ini menjadi bagian penting dari upaya pemulihan menyeluruh pascagempa di Kabupaten Ende dan sekitarnya.