ACEH — Guncangan gempa dangkal yang terjadi pukul 05.58 WITA itu memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi ke sejumlah titik. Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak, mencapai 23 orang, disusul Manggarai Timur dengan 20 orang meninggal dunia.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meninjau langsung lokasi terdampak di Manggarai pada Senin (17/8). Ia meminta pemerintah daerah segera membentuk satuan tugas (satgas) untuk memperkuat koordinasi penanganan pengungsi yang tersebar di beberapa titik.
"Kami dorong agar satgas daerah segera dibentuk karena lokasi pengungsian ada di beberapa titik. Selain itu, kami melihat masih ada kebutuhan dasar para pengungsi yang harus dipenuhi," ujar Pratikno di lokasi terdampak.
Data BNPB merinci korban jiwa tersebar di enam kabupaten. Selain Manggarai dan Manggarai Timur, Kabupaten Sikka mencatat empat korban meninggal, Ende dua orang, serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing satu orang. Adapun korban luka-luka terbanyak berada di Manggarai dengan 119 orang.
Kerusakan fisik tidak hanya menimpa rumah warga. Sebanyak 167 fasilitas umum dilaporkan rusak, terdiri dari 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah. Dari total 1.639 rumah yang rusak, sebanyak 841 unit masuk kategori rusak berat, 48 rusak sedang, dan 174 rusak ringan. Sebanyak 576 rumah lainnya masih dalam proses klasifikasi tingkat kerusakan.
Dana bantuan darurat yang berhasil dihimpun hingga Minggu (16/8) pukul 19.05 WIB mencapai sekitar Rp372 juta. Dari jumlah tersebut, Rp65 juta telah disalurkan langsung ke tiga posko lapangan. Posko Aeramo di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo menerima Rp25 juta; Posko Kurubhoko di Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada menerima Rp25 juta; serta Posko Karot di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai menerima Rp15 juta.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan unsur terkait masih melakukan pendataan, evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak. Proses klasifikasi kerusakan rumah dan fasilitas umum terus berjalan untuk menentukan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa.