ACEH — Wacana konversi besar-besaran armada ojek online (ojol) ke motor listrik kerap berbenturan dengan realita di lapangan. Managing Director Industrialization BPI Danantara, Ardy Muawin, membeberkan bahwa keengganan mitra pengemudi bukan tanpa sebab. Ada dua tembok besar yang menghadang: kemampuan teknis kendaraan dan akses ke pembiayaan.
Temuan yang paling menarik justru datang dari sektor finansial. Berdasarkan masukan dari aplikator seperti Grab, banyak mitra pengemudi sebenarnya ingin beralih, tapi gagal di meja kredit. Verifikasi BI Checking atau SLIK OJK menjadi batu sandungan utama.
Paradoksnya, pengemudi dengan performa kerja baik dan aktif setiap hari justru dinilai memiliki risiko kredit yang relatif rendah. Namun, sistem perbankan konvensional kesulitan memetakan profil mereka ke dalam skema kredit standar.
Beban makin berat karena bunga kredit sepeda motor konvensional disebut-sebut berada di kisaran 30-40 persen. Angka ini jomplang dibandingkan kredit mobil yang hanya berkisar 12 persen. Diler yang mengejar bonus penjualan juga cenderung mendorong pembelian secara kredit, yang ujung-ujungnya memberatkan konsumen.
Untuk menjawab kebuntuan ini, Danantara menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Mereka tengah menyusun skema pembiayaan alternatif yang lebih sesuai dengan karakteristik penghasilan pengemudi ojol yang harian.
Skema tersebut mencakup opsi cicilan harian dan sistem yang mampu menonaktifkan kendaraan secara otomatis apabila terjadi tunggakan pembayaran. Langkah ini diyakini mampu menekan credit risk, sehingga biaya pinjaman (cost of money) bisa lebih rendah dan pada akhirnya mendorong permintaan.
"Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen," ujar Ardy dalam diskusi bertajuk Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry, Selasa (25/8).
Selain soal pembiayaan, faktor teknis juga sempat menjadi momok. Pada awal pengembangan, banyak motor listrik lokal dinilai kurang bertenaga saat melibas tanjakan, dan daya jelajah baterainya belum memadai untuk kebutuhan operasional ojol yang bisa mencapai ratusan kilometer per hari.
Kabar baiknya, Ardy mengakui bahwa persoalan ini perlahan mulai diatasi oleh produsen. Generasi terbaru motor listrik mulai dibenahi dari sisi torsi dan kapasitas baterai, meski belum ada detail spesifikasi pasti yang disebutkan dalam paparannya.
Terlepas dari hambatan di atas, insentif untuk beralih sebenarnya sangat nyata secara ekonomi. Riset internal Danantara menunjukkan bahwa penggunaan motor listrik berpotensi menghemat biaya harian sekitar Rp 10-20 ribu dibandingkan motor bensin. Jika diakumulasi, angka tersebut bisa tembus Rp 500 ribuan per bulan.
"That's a lot of money buat teman-teman itu," kata Ardy. Jumlah ini bukan angka kecil bagi pengemudi ojol yang margin keuntungannya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga BBM.
Persoalan migrasi ojol ke motor listrik adalah masalah ekosistem yang kompleks. Menyediakan produk dengan harga murah saja tidak cukup jika pengemudi tidak lolos verifikasi kredit. Sebaliknya, skema pembiayaan yang longgar juga percuma jika kendaraannya tidak mampu diajak kerja keras menaklukkan medan Jakarta atau medan berbukit di kota lain.
Skema cicilan harian dengan sistem remote immobilizer yang diusulkan Danantara adalah langkah berani yang patut diawasi. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah bunga yang ditawarkan nantinya benar-benar lebih rendah dari 30-40 persen? Dan apakah sistem penonaktifan otomatis tidak akan menjadi bumerang bagi pengemudi yang penghasilannya sedang drop di hari itu? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah program ini menjadi solusi atau sekadar wacana.