Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) memastikan provinsi paling barat Indonesia itu tidak masuk dalam kategori daerah berisiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meski sedang dilanda musim kemarau. Kondisi lahan di Aceh disebut lebih basah dibandingkan sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan. Kepala Pelaksana BPBA Bahron Bakti menyampaikan hal tersebut di Banda Aceh, Rabu.
BANDA ACEH — Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan provinsi ini tidak termasuk daerah berisiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau tahun ini. Kondisi lahan yang cenderung basah menjadi faktor utama yang membedakan Aceh dengan wilayah rawan lainnya.
"Alhamdulillah, karena dinamika atmosfer yang sedemikian rupa, Aceh tidak masuk dalam provinsi yang beresiko tinggi kebakaran hutan dan lahan," kata Kepala Pelaksana BPBA Bahron Bakti di Banda Aceh, Rabu.
Meski el nino menyebabkan hari tanpa hujan ekstrem di sejumlah wilayah, lahan di Aceh dinilai lebih basah dibandingkan Riau, Jambi, Palembang, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Bahron mengakui karhutla tetap muncul di beberapa daerah sejak beberapa hari terakhir. Titik kebakaran terpantau di Kabupaten Aceh Besar, Nagan Raya, Aceh Barat, dan kabupaten lainnya.
Meski demikian, seluruh kejadian tersebut masih berskala kecil dan langsung tertangani. Penanganan dilakukan secara parsial oleh pemerintah kabupaten/kota setempat tanpa melibatkan satuan tugas khusus.
"Kita tidak punya Satgas, jadi ditangani secara parsial oleh kabupaten/kota terkait, dan alhamdulilah bisa tertangani," ujarnya.
BPBA mencatat banyak titik panas (hotspot) muncul di wilayah Aceh. Namun hasil verifikasi faktual atau ground truthing menunjukkan kebakaran terjadi pada lahan mineral, bukan di lahan gambut.
Perbedaan jenis lahan ini menjadi penentu utama cepat atau lambatnya api menyebar. Kebakaran di lahan mineral lebih mudah dipadamkan dibandingkan gambut yang berpotensi memicu asap tebal berkepanjangan.
Bahron menyebut persoalan risiko karhutla telah menjadi perhatian serius lintas instansi. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh telah menggelar rapat khusus membahas hal ini.
"Terkait risiko karhutla, Forkopimda Aceh juga telah melaksanakan rapat dan masalah ini menjadi atensi bersama," katanya.
Langkah koordinasi ini dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan dini menghadapi potensi kebakaran di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.