ACEH — Proyek yang sempat tertunda di Jerman, Korea, AS, dan Jepang ini akhirnya dirampungkan di Taiwan dengan melibatkan kru serta pemain dari empat negara: Taiwan, Jepang, Hong Kong, dan Prancis. Sabu mengaku versi final film ini justru lebih mencekam dan menyentuh dibanding naskah awal yang ia tulis pada 2007 silam.
"Saya yakin naskah ini punya sesuatu yang istimewa, jadi saya selalu percaya film ini pada akhirnya akan dibuat. Ini hanya soal menunggu momen dan waktu yang tepat," ujar Sabu kepada Variety. "Dibandingkan dengan film yang saya bayangkan pada 2007, versi finalnya punya ketegangan dan kepedihan yang lebih besar."
"Arrested Memory" mengikuti kisah seorang detektif polisi bernama Lee yang kehilangan ingatannya. Premis inilah yang digunakan Sabu untuk merombak total karakter utamanya selama bertahun-tahun proyek ini mandek.
Awalnya, Lee digambarkan sebagai polisi korup dengan rasa keadilan yang kuat, yang kemudian goyah dan berubah menjadi buruk. Namun, Sabu mengubah arah cerita. "Dua puluh tahun kemudian, saya pikir akan lebih meyakinkan dan menarik untuk menunjukkan seseorang yang dulunya dipercaya orang-orang di sekitarnya, perlahan kembali ke dirinya yang polos dan autentik setelah kehilangan ingatan," jelasnya.
Sabu juga menambahkan elemen judo ke dalam karakter Lee. "Saya merasa judo bisa mengekspresikan kemanusiaan Lee—gagasan bahwa ia melindungi orang melalui tindakannya, bukan melalui kata-kata."
Untuk memerankan Lee, Sabu memilih aktor Taiwan Ethan Juan yang dikenal lewat peran-peran dramatisnya. Keputusan ini terbilang berani karena Sabu justru mendorong Juan untuk bermain komedi—ciri khas yang membangun reputasi sang sutradara sejak debutnya lewat "Dangan Runner" (1996).
"Komedi saya dibangun di atas ketegangan dan pelepasan. Semakin serius seorang aktor memainkan situasi, semakin banyak humor yang bisa muncul darinya," kata Sabu. Ia menambahkan bahwa penampilan Juan justru memperkaya karakter yang ia tulis. "Penampilan Ethan menambahkan rasa kepedihan yang lebih besar pada karakter seperti yang tertulis di naskah."
Keputusan menjadikan Taiwan sebagai lokasi syuting membawa dinamika tersendiri. Sabu mengaku bekerja dengan orang-orang dari budaya perfilman yang berbeda menciptakan atmosfer unik yang tak mungkin ia dapatkan di tempat lain. Pengalaman ini pun membuka keinginannya untuk terus berkarya di berbagai negara.
Proses kreatif Sabu tergolong ekstrem. Ia menggambar hampir 2.000 papan cerita (storyboard) sebelum produksi dimulai, lalu melewati 58 versi penyuntingan. "Saya justru berharap sesuatu muncul melampaui apa yang saya bayangkan," ujarnya.
Setelah tiga dekade berkarya di genre aksi, komedi, horor, dan fantasi, Sabu menegaskan tujuannya tetap sama: menghibur penonton. "Saya selalu ingin membuat film yang membuat orang merasa lebih baik daripada saat mereka mulai menonton," katanya.
Sabu sudah menyiapkan dua naskah berikutnya—satu ditulis tujuh tahun lalu dan satu lagi dua tahun lalu. Yang menarik, ia mengungkapkan proyek setelah "Arrested Memory" akan menjadi "kisah cinta yang bikin nangis."
Penjualan internasional "Arrested Memory" ditangani oleh Lucky Number. Film ini dijadwalkan mengikuti festival-festival besar sebelum dirilis ke publik.