Gampong Lampaloh di Banda Aceh, 80 Persen Warganya ASN dan Hidup Seperti Satu Keluarga Besar

Penulis: Faisal Hasbi  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:01:32 WIB
Keuchik Gampong Lampaloh, Azhari, menyampaikan kondisi kehidupan sosial warganya yang saling mengenal dan menjaga di Banda Aceh, Aceh.

BANDA ACEH — Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Banda Aceh, Gampong Lampaloh di Kecamatan Lueng Bata justru mempertahankan suasana yang berbeda. Dengan populasi sekitar 176 kepala keluarga, gampong ini menjadi salah satu yang terkecil di ibu kota provinsi Aceh.

Keuchik Lampaloh, Azhari, mengatakan hampir seluruh warganya masih memiliki ikatan keluarga. Kondisi itu membuat kehidupan sosial di gampongnya berjalan seperti satu keluarga besar yang saling mengenal dan menjaga.

"Di Lampaloh ini kami seperti satu keluarga besar. Hampir semua warga masih memiliki hubungan keluarga sehingga kehidupan sosial berjalan sangat baik dan penuh kebersamaan," ujar Azhari kepada Pintoe.co.

Mayoritas Warga Berprofesi sebagai ASN

Dari total populasi tersebut, sekitar 80 persen warga Lampaloh bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Profesi mereka beragam, mulai dari guru hingga pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Aceh.

Tingginya jumlah ASN ini turut mempengaruhi ritme kehidupan harian warga. Aktivitas gampong berjalan tertib, dan nilai-nilai religius masih dijunjung tinggi dalam keseharian masyarakat.

Anggaran Khusus untuk Pembinaan Pemuda

Perhatian terhadap generasi muda menjadi salah satu prioritas pemerintah gampong. Setiap tahun, Azhari menyebutkan alokasi anggaran sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta digelontorkan untuk kegiatan kepemudaan, khususnya di bidang olahraga.

Karena tidak memiliki lapangan sendiri, pemerintah gampong menyiasatinya dengan menyewa lapangan bagi pemuda yang aktif bermain futsal dan mini soccer. Antusiasme anak muda setempat terhadap kedua olahraga ini terbilang tinggi, termasuk untuk mengikuti berbagai turnamen.

"Anak-anak muda di sini sangat antusias dengan kegiatan olahraga, khususnya futsal dan mini soccer. Karena kami tidak memiliki lapangan sendiri maka pemerintah gampong menyewa lapangan untuk mereka berlatih dan mengikuti berbagai turnamen," kata Azhari.

Kegiatan pemuda tidak hanya sebatas olahraga. Pada pawai takbir keliling 1447 Hijriah, kontingen Gampong Lampaloh berhasil meraih juara favorit tingkat Kota Banda Aceh.

BUMG Jadi Penopang Kebutuhan Warga

Di sektor ekonomi, keberadaan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Lampaloh sangat terasa manfaatnya. Salah satu layanan yang paling membantu masyarakat adalah penyediaan gas elpiji 3 kilogram yang bisa diakses tanpa antrean panjang.

"Alhamdulillah, hampir 90 persen warga terbantu dengan keberadaan BUMG, terutama dalam memperoleh kebutuhan pokok dan gas elpiji tiga kilogram," ungkap Azhari.

Selain gas, BUMG juga menyediakan kebutuhan rumah tangga dan perkantoran dengan sistem layanan fleksibel. Hal ini memudahkan warga dalam memenuhi kebutuhan harian mereka.

Lampaloh sebenarnya pernah memiliki sentra kerajinan berbasis daur ulang yang cukup dikenal. Warga mengolah tempurung kelapa, kulit peti, dan barang bekas menjadi lampu hias, tempat tisu, hingga asbak. Produk-produk itu bahkan sempat dipamerkan hingga ke Bali dan menjadi sumber penghasilan tambahan, meski kini tidak seaktif dulu.

Gotong Royong dan Aturan Salat Magrib

Nilai religius dan budaya gotong royong menjadi identitas tersendiri bagi Gampong Lampaloh. Pemerintah gampong menerapkan aturan tegas: tidak ada aktivitas kedai yang buka saat waktu salat Magrib, termasuk saat ada pesta atau ketika warga meninggal dunia. Kebijakan ini diambil untuk mendorong masyarakat mengutamakan salat berjamaah.

Semangat gotong royong pun masih terpelihara kuat. Ketika ada warga yang meninggal, masyarakat berbondong-bondong membantu proses pemakaman tanpa meminta imbalan.

"Sifat gotong royong di Lampaloh masih sangat kuat. Kami ingin semangat kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi identitas gampong," tutup Azhari.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: pintoe.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top