JAKARTA — Waled Nu dan Tgk H. Faisal Ali bertemu dengan Sufmi Dasco Ahmad di ruang kerja pimpinan DPR RI. Dalam pertemuan itu, kedua tokoh asal Serambi Mekkah ini menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini berkembang di masyarakat Aceh, mulai dari isu keagamaan, sosial kemasyarakatan, hingga pembangunan daerah.
Pertemuan yang berlangsung di kompleks parlemen tersebut difasilitasi langsung oleh Nazaruddin atau yang akrab disapa Dek Gam. Politisi asal Aceh itu menyebut perannya hanya sebatas menjembatani agar suara ulama bisa didengar pimpinan DPR RI.
“Saya hanya memfasilitasi pertemuan itu. Alhamdulillah pertemuan berjalan dengan lancar,” kata Dek Gam dalam keterangan yang dikutip dari Habanusantara.net.
Dek Gam menjelaskan bahwa materi pembahasan dalam pertemuan itu mencakup beberapa sektor strategis. Selain soal keagamaan, isu ekonomi dan pelayanan publik juga menjadi perhatian utama.
Beberapa poin yang mengemuka antara lain persoalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh, sengketa atau kepastian lahan, serta kebutuhan pembangunan infrastruktur yang masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Pulau Sumatera.
“Saya sebagai wakil rakyat tentu akan mengawal aspirasi yang disampaikan oleh tokoh ulama Aceh,” ujarnya.
Menurut Dek Gam, komunikasi langsung antara ulama dan pimpinan DPR RI menjadi pintu masuk agar persoalan daerah dapat dipahami secara utuh dari perspektif masyarakat. Ia menilai banyak kebijakan pusat yang berdampak ke daerah sering kali kurang mempertimbangkan kondisi sosial di lapangan.
“Pertemuan hari ini menjadi pintu masuk untuk mendorong penyelesaian berbagai persoalan Aceh melalui kewenangan pemerintah pusat dan DPR RI,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Dasco didampingi Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Rano Alfath, serta Pimpinan BAKN DPR RI Endipat Wijaya.
Sufmi Dasco Ahmad menegaskan bahwa mendengarkan langsung para ulama merupakan bagian dari penghormatan terhadap perjalanan panjang Aceh dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia menyebut Aceh memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan.
“Aceh punya sejarah panjang perjuangan, dan mendengarkan langsung para ulamanya adalah bentuk penghormatan pada sejarah itu,” ujar Dasco.
Politikus Partai Gerindra itu menambahkan, seluruh aspirasi yang disampaikan akan menjadi bahan masukan bagi DPR RI untuk dikoordinasikan lebih lanjut sesuai kewenangan lembaga.
“Aspirasi ini menjadi masukan penting bagi kami di DPR RI, dan akan kami koordinasikan sesuai kewenangan yang ada,” katanya.
Tgk H. Nuruzzahri Yahya atau Waled Nu merupakan ulama kharismatik yang baru terpilih sebagai salah satu dari sembilan anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang. Kehadirannya dalam pertemuan ini menegaskan posisi ulama sebagai jembatan aspirasi masyarakat Aceh ke tingkat nasional.
Dengan adanya pertemuan ini, masyarakat Aceh berharap persoalan yang selama ini belum tuntas—seperti penguatan PAD dan kepastian hukum tanah—segera mendapat respon nyata dari pemerintah pusat.