16.276 Hektare Sawah Rusak Berat di Aceh Belum Tertangani, Gubernur Mualem Minta Surat Percepatan Dikirim ke Dua Menteri

Penulis: Zulkifli Arief  •  Jumat, 04 September 2026 | 09:31:31 WIB
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menginstruksikan percepatan penanganan 16.276 hektare sawah rusak berat di Aceh.

BANDA ACEH — Sekitar 16.276 hektare sawah rusak berat di Aceh masih menunggu penanganan. Angka itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanbun Aceh, Azanuddin Kurnia, saat menghadap Gubernur Muzakir Manaf di ruang kerja Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu (2/9/2026) lalu.

Gubernur yang akrab disapa Mualem itu langsung merespons dengan menginstruksikan percepatan di semua lini. "Kerahkan semua sumber daya yang ada, bangun kolaborasi dengan para pihak terutama kepada dinas kabupaten/kota, TNI, dan kelompok tani," demikian arahan Mualem yang disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Rabu (3/9/2026).

Surat Percepatan ke Kementan dan ATR/BPN

Salah satu langkah konkret yang ditegaskan Mualem adalah pengiriman surat resmi ke dua kementerian. Kepada Menteri Pertanian, Gubernur meminta kajian cepat terkait perhitungan biaya per hektare agar pelaksanaan survei investigasi dan desain bisa segera dilakukan sebelum fisik dikerjakan.

Sementara kepada Menteri ATR/BPN, bantuan yang diminta berupa identifikasi dan pemetaan batas lahan. Hal ini dinilai penting karena batas sawah rusak berat umumnya sudah tidak terlihat lagi akibat terdampak bencana.

Target 40.852 Hektare Rampung Tahun Ini

Meski 16.276 hektare sawah rusak berat belum tersentuh perbaikan, Azanuddin melaporkan optimisme penanganan untuk kategori rusak ringan dan sedang. Per tanggal 1 September 2026, serapan anggaran Distanbun Aceh telah mencapai 53 persen.

"Kami meyakini tahun ini sekitar 40.852 hektare sawah rusak ringan dan sedang akan selesai ditangani termasuk kegiatan pendukungnya. Kami meminta kawan-kawan dinas kabupaten/kota terus mengawal dan mengawasi pekerjaan di lapangan," kata Azanuddin.

Alat Mesin Pertanian Jangan Jadi Pajangan

Dalam pertemuan tersebut, Mualem juga menyoroti bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dari Kementan yang disalurkan ke kabupaten/kota. Ia mengingatkan agar bantuan itu benar-benar difungsikan untuk mendukung ketahanan pangan.

"Jangan hanya dijadikan pajangan, tapi manfaatkan untuk mendukung semua pekerjaan para petani. Kelola dengan baik," pesannya.

Terkait benih dan bibit bantuan—baik padi, jagung, kopi, kakao, kelapa, maupun karet—yang tengah diproses, Mualem berharap semua itu bisa mempercepat pemulihan Aceh pascabencana. "Manfaatkan sebaik mungkin agar kita bisa kembali seperti sediakala bahkan kalau bisa lebih baik dari sebelumnya," ujarnya.

Empat Strategi Pemulihan Sawah Rusak Berat

Sebelumnya, Azanuddin sempat memaparkan sejumlah strategi untuk memulihkan sawah rusak berat di Aceh. Pertama, lumpur sawah yang memenuhi lahan bisa dimanfaatkan sebagai bahan galian C untuk proyek pemerintah. Kedua, menanam tanaman muda yang sesuai dengan kondisi lahan.

Ketiga, material lumpur diolah menjadi bahan baku bata ringan atau bata merah. Keempat, melakukan rehabilitasi sawah rusak berat secara menyeluruh untuk mengembalikan fungsi lahan seperti sebelum bencana.

Gubernur Mualem menilai paparan Azanuddin tersebut sebagai langkah yang tepat untuk mempercepat proses penanganan sawah rusak berat di Tanah Rencong.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: waspadaaceh.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top