Helikopter Water Bombing Semeru Dikerahkan ke Gunung Ijen, 20 Hektare Lahan Terbakar

Penulis: Zulkifli Arief  •  Selasa, 08 September 2026 | 05:02:31 WIB
Helikopter water bombing dikerahkan dari Gunung Semeru ke Gunung Ijen untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan seluas 20 hektare.

ACEH — Luas area terdampak karhutla di Gunung Ijen tercatat 20 hektare dan belum bisa diperbarui karena pemetaan ulang belum dilakukan. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyatakan data tersebut masih tetap karena tim kesulitan melakukan pemetaan akibat medan yang terjal.

Dua Titik Api yang Masih Ditangani di Perbatasan Banyuwangi-Bondowoso

Pemadaman terpusat di Gunung Merapi Ungup-ungup, Taman Sari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, serta Dusun Curah Macan, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. Kedua lokasi berada di perbatasan dua kabupaten yang masuk kawasan konservasi.

Gatot menjelaskan pengalihan helikopter dari Semeru ke Ijen dilakukan setelah operasi pemadaman di Gunung Semeru resmi ditutup. Langkah ini juga berdasarkan surat permohonan dari BKSDA dan surat tanggap darurat Bupati Banyuwangi.

Operasi Sempat Terhenti karena Perawatan Rutin Helikopter

Pada Minggu (6/9), helikopter telah melaksanakan dua kali sortie water bombing dengan kapasitas masing-masing 1 ton air. Namun pada Senin (7/9), operasi untuk sementara dihentikan karena helikopter menjalani perawatan rutin dan dijadwalkan kembali beroperasi pada Selasa (8/9).

"Khusus hari Senin seperti biasanya, helikopter mendapatkan perawatan rutin sehingga pada hari Senin ini tidak dilakukan water bombing. Water bombing akan dilakukan kembali pada hari Selasa," kata Gatot, Senin (7/9).

Tebing Curam dan Angin Kencang Hambat Pemadaman dari Udara maupun Darat

Kondisi geografis Gunung Ijen menjadi kendala utama dalam penanganan karhutla. Tebing curam dan angin kencang yang sering berubah arah menyulitkan tim darat menjangkau titik api sekaligus mengganggu manuver helikopter saat menjatuhkan air.

"Ini juga yang mempengaruhi kesulitan tim darat untuk melakukan pemadaman serta terganggunya operasional helikopter pada saat water bombing, karena cuacanya sering berubah dan anginnya kencang," ujarnya.

Gatot menambahkan, pihaknya belum bisa memastikan kapan api akan sepenuhnya padam. Evaluasi luas terdampak baru bisa dilakukan setelah kondisi medan memungkinkan tim melakukan pemetaan ulang dari udara maupun darat.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top