Banjir Bandang Hanyutkan Gudang dan Kulkas, Produksi Batari KSU Muara Tanjung Aceh Timur Terhenti

Penulis: Faisal Hasbi  •  Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:01:01 WIB
Gudang dan kulkas produksi Batari di Gampong Tanjong Minje, Aceh Timur, hanyut diterjang banjir bandang.

ACEH TIMUR — Pimpinan KSU Muara Tanjung, Mahmuddin, menyebut fasilitas produksi Batari rusak parah diterjang banjir. Selain gudang, peralatan pendingin yang menjadi penopang pengolahan ikan bandeng ikut hilang terbawa arus.

Sebelum bencana, usaha di Gampong Tanjong Minje itu mampu mengolah sekitar 3.000 ekor ikan bandeng menjadi satu ton Batari setiap bulan. Bahan baku dibeli dari petani tambak di sekitar lokasi usaha.

“Dua tahun lalu, produksi kami bisa mencapai satu ton per bulan. Bahan bakunya dari masyarakat dan petani tambak di sekitar tempat usaha,” kata Mahmuddin, Kamis (29/10/2026) malam.

Gudang dan Kulkas Hanyut, Modal Jadi Penghalang Utama

Banjir bandang menghanyutkan gudang penyimpanan dan kulkas produksi. Dua fasilitas itu sebelumnya dipakai untuk menjaga mutu Batari sebelum dikirim ke pembeli.

Tanpa pendingin, Mahmuddin belum berani memulai produksi kembali. Koperasi belum memiliki dana untuk membeli peralatan pengganti.

“Kami belum sanggup menyediakan alat produksi seperti pendingin dan peralatan lainnya,” ujarnya.

Proses pencabutan duri ikan bandeng selama ini dikerjakan manual memakai pinset. Cara itu menuntut ketelitian tinggi dan menyerap tenaga kerja warga sekitar.

Permintaan dari Lima Kabupaten-Kota Masih Menunggu

Pasar Batari sebenarnya tidak sepi. Produk ini pernah dipesan dari Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Utara, hingga Banda Aceh.

Konsumennya mencakup masyarakat umum, kafe, rumah makan, dan perhotelan. Harga jualnya sekitar Rp16.000 per ekor atau Rp70.000 per kilogram.

Bandeng tanpa duri punya nilai tambah karena lebih praktis disantap. Posisi itu membuat Batari sempat diperkenalkan sebagai produk unggulan Aceh Timur, termasuk dalam promosi kuliner Pekan Kebudayaan Aceh.

Petani Tambak dan Tenaga Kerja Lokal Ikut Terdampak

Terhentinya produksi bukan hanya soal kehilangan omzet koperasi. Petani tambak di Kecamatan Madat kehilangan pembeli tetap untuk hasil panen ikan bandeng mereka.

Warga yang biasa bekerja mencabut duri juga kehilangan penghasilan harian. Mahmuddin berharap usaha bisa pulih agar ia kembali mempekerjakan warga sekitar.

Pemulihan Batari menuntut dukungan lebih dari sekadar bantuan bahan baku. Pelaku usaha membutuhkan sarana produksi, penyimpanan memadai, modal kerja, dan akses pemasaran yang lebih luas.

Pendataan Kerusakan dan Pendampingan Legalitas Jadi Kunci

Pemerintah daerah dapat membantu mendata kerusakan usaha terdampak banjir. Fasilitasi peralatan produksi menjadi kebutuhan paling mendesak agar Batari bisa beroperasi lagi.

Pendampingan legalitas usaha dan pemenuhan standar keamanan pangan juga penting. Keduanya memperbesar peluang produk diterima pasar yang lebih luas dan dipercaya konsumen.

Di Gampong Tanjong Minje, Batari masih menyimpan peluang untuk bangkit. Produksi bisa kembali berjalan bila peralatan pengganti tersedia dan pendampingan usaha berjalan seiring pemulihan kawasan pascabanjir.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: lingkarpos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top