BANDA ACEH — Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyebut capaian tersebut sebagai hasil sinergi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan UMKM Aceh. Menurutnya, peluang usaha, akses pasar, dan pembiayaan yang terbuka lewat festival itu diharapkan tidak berhenti setelah acara selesai.
"Kami berharap berbagai peluang usaha, akses pasar, dan pembiayaan yang telah terbuka melalui Meuseuraya Festival dapat terus berlanjut, sehingga UMKM Aceh semakin berdaya saing dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah," ujar Agus.
Sebanyak 150 pelaku UMKM terlibat dalam festival ini, mencakup sektor makanan dan minuman, wastra dan kriya, serta perawatan tubuh. Produk mereka dipamerkan lewat Galeria Wastra Indatu yang berkolaborasi dengan Dekranasda se-Provinsi Aceh, pameran wastra UMKM, Aroma Seramoe Kopi dan Coklat, Jajanan Piyoh-Piyoh, bazar kuliner khas Aceh, serta coffee truck.
Ruang pamer itu memberi pelaku usaha kesempatan memperkenalkan produk ke konsumen lebih luas. Peluang penjualan pun terbuka, baik untuk pasar domestik maupun mancanegara.
Rangkaian edukasi festival diikuti 1.900 peserta. Materinya mencakup Aceh Economic Forum, Pelindungan Konsumen Talk, talkshow UMKM Ekspor, Pesona Wastra Aceh, Bedah Buku, UMKM Business Matching Retail, hingga workshop kecantikan.
Kegiatan itu menyasar peningkatan kapasitas pelaku UMKM sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat soal pengembangan usaha, perlindungan konsumen, dan literasi keuangan.
Antusiasme warga terlihat dari 520 peserta yang mengikuti sembilan kompetisi, mulai dari Meuseuraya Idol Cilik, Lomba Masak Meuseuraya Rasa, Lomba Cangkir Barista, Tari Ratoh Jaroe, Tari Rapa'i Geleng, QRIS Dance Competition, lomba mewarnai, Fashion Show Cinta Bangga Paham Rupiah, hingga Ranking 1.
Total kunjungan festival mencapai sekitar 10.000 orang. Selain kompetisi, warga hadir dalam Tabligh Akbar bersama Ustad Hanan Attaki, donor darah, QRIS Funwalk, Masak Besar Khanduri Meuseuraya, penukaran uang logam, dan sejumlah hiburan lain.
Di sela festival, Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Aceh, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dan pelaku UMKM menetapkan Kantin UIN Ar-Raniry sebagai zona KHAS (Kuliner, Halal, Aman, dan Sehat).
Penetapan itu jadi langkah memperkuat ekosistem kuliner halal di lingkungan perguruan tinggi. Standar yang diterapkan diharapkan menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk dan layanan kuliner kampus.
Penguatan ekosistem UMKM dalam festival ini melibatkan lebih dari 50 pemangku kepentingan tingkat provinsi dan nasional. Pemerintah Aceh, asosiasi, perbankan, Dekranasda kabupaten/kota se-Aceh, desainer, akademisi, agregator, dan komunitas ikut ambil bagian.
Sinergi lintas sektor itu diharapkan membuka peluang kemitraan baru, memperluas akses pembiayaan dan pemasaran, serta menjaga keberlanjutan pengembangan UMKM di Aceh.