BANDA ACEH — Masrul menyampaikan pandangan itu dalam wawancara bersama Nukilan.id. Ia mencontohkan perempuan yang sudah mengenakan pakaian syar'i seperti gamis, tetapi dibonceng oleh laki-laki yang memakai celana pendek, baik suami maupun anaknya.
Menurut Masrul, kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah penerapan syariat Islam hanya menjadi kewajiban perempuan. Padahal, laki-laki juga memiliki kewajiban yang sama untuk menaati aturan syariat.
Masrul menduga kecenderungan itu muncul karena mayoritas pendakwah adalah laki-laki. Ia menyebut adanya ego sentris dalam cara dakwah disampaikan ke masyarakat.
"Selama ini, kita cenderung hanya berfokus pada persoalan aurat perempuan, sementara laki-laki seolah-olah tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada aturan syariat. Hal ini mungkin terjadi karena adanya ego sentris, mengingat mayoritas pendakwah adalah laki-laki. Namun, dakwah yang disampaikan justru lebih sering menyasar kaum perempuan, bukan laki-laki," kata Masrul.
Ia menambahkan, pembatasan di ruang publik memang lebih ketat terhadap perempuan. Namun, pembatasan itu bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban syariat bagi laki-laki.
Masrul juga menyinggung soal kebiasaan bergosip yang selama ini identik dengan perempuan. Menurutnya, laki-laki melakukan hal serupa, tetapi perilaku itu lebih sering dilekatkan pada kaum perempuan.
Ia menyoroti pendakwah yang tampil di ruang publik, terutama di atas panggung, yang rata-rata laki-laki. Tidak semuanya memahami syariat maupun esensi dakwah secara utuh.
"Para pendakwah yang tampil di ruang publik, terutama di atas panggung, rata-rata adalah laki-laki. Namun, tidak semuanya memahami syariat maupun esensi dakwah secara utuh. Ada pula yang sekadar menjadikan dakwah sebagai konten. Akibatnya, materi dakwah yang disampaikan kerap menyasar perempuan, sementara laki-laki justru kurang mendapat sorotan atau teguran yang sama," ujar Masrul.
Masrul menjelaskan, kecenderungan menyalahkan pihak lain berkaitan dengan faktor psikologis manusia. Ketika seseorang berbicara dari sudut pandangnya sendiri, pihak lain sering dianggap sebagai sumber kesalahan.
Pola serupa, lanjutnya, juga muncul dalam kehidupan keluarga. Seseorang lebih mudah menyalahkan keluarga lain ketimbang mengevaluasi diri sendiri.
Masrul mengakui mengubah pola pikir itu bukan perkara mudah. Salah satu persoalan dalam aktivitas dakwah adalah masih banyak pendakwah yang belum menjadikan metodologi dakwah sebagai landasan.
"Sulit rasanya untuk mengubah kecenderungan ini, karena rata-rata pendakwah itu tidak berangkat dari metodologi dakwah. Mereka berdakwah karena terampil berbicara dan dapat panggung," pungkasnya.