Pencarian

Petani Garam Aceh Utara Bertahan di Lahan Rusak Demi Laba Tipis

Minggu, 03 Mei 2026 • 11:30:09 WIB
Petani Garam Aceh Utara Bertahan di Lahan Rusak Demi Laba Tipis
Hamidah memikul jeriken air laut untuk produksi garam tradisional di Desa Lancok, Aceh Utara.

LHOKSUKON — Hamidah (55) tampak sempoyongan memikul dua jeriken air laut di bawah terik matahari Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (3/5/2026). Ia berjuang menghidupkan kembali tungku garam tradisionalnya yang sempat mati suri selama enam bulan terakhir.

Lahan produksinya kini berubah menjadi muara baru akibat banjir besar pada 26 November 2025 silam. Sisa lumpur dan kerusakan fisik memaksa Hamidah memutar otak agar dapur tetap mengepul di tengah keterbatasan sarana produksi yang kian menyempit.

Perubahan Teknik Produksi Akibat Kerusakan Lahan Pasca-Banjir

Hamidah tak lagi bisa mengandalkan penguapan air laut secara alami di lahan luas seperti sediakala. Ia kini terpaksa menggunakan teknik bibit garam untuk mempercepat proses kristalisasi di sisa area yang masih bisa diselamatkan dari endapan lumpur.

"Tak cukup lahan lagi buat produksi. Dengan bibit 10 kilogram, bisa menghasilkan garam 10 bambu. Sebelum banjir tahun lalu, bibit hanya kami gunakan saat musim hujan saja karena tak bisa mengendapkan air laut," kata Hamidah, Minggu (3/5).

Penggunaan bibit ini menjadi pilihan pahit karena meningkatkan biaya operasional. Tanpa lahan penguapan yang memadai, proses kristalisasi garam sepenuhnya bergantung pada tambahan bahan baku eksternal dan durasi memasak yang lebih lama di atas tungku.

Margin Laba Tipis Terhimpit Biaya Kayu Bakar dan Bibit

Operasional produksi garam tradisional menuntut modal yang tidak sedikit bagi petani kecil di pesisir Aceh Utara. Hamidah harus merogoh kocek Rp 55.000 untuk membeli setiap 10 kilogram bibit garam sebagai pemicu kristalisasi.

Beban produksi bertambah signifikan dengan tingginya harga kayu bakar yang mencapai Rp 100.000 per satu becak. Nilai investasi ini seringkali tidak sebanding dengan harga jual yang dipatok oleh para agen pengepul di tingkat desa.

"Saat ini, agen pengepul membeli Rp 9.000 per bambu, sedangkan di pasaran dijual Rp 12.000-14.000 per bambu," keluh Hamidah saat merinci selisih harga yang ia terima.

Alasan Petani Lancok Tetap Bertahan di Tengah Keterbatasan

Meski selisih keuntungan sangat kecil jika dihitung dengan tenaga dan waktu, profesi ini tetap ditekuni karena ketiadaan alternatif lapangan kerja lain. Kesabaran menjadi modal utama Hamidah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di wilayah pesisir tersebut.

"Daripada tidak punya penghasilan sedikit pun, kami tetap bertahan," tuturnya singkat.

Kondisi ini mencerminkan kerentanan ekonomi petani garam tradisional yang sangat bergantung pada stabilitas lingkungan. Tanpa adanya upaya rehabilitasi lahan atau intervensi skema harga di tingkat petani, keberlangsungan produksi garam rakyat di Desa Lancok berada dalam ancaman serius.

Bagikan
Sumber: regional.kompas.com

Berita Terkini

Indeks