Perum PERURI bersama 14 BUMN menuntaskan program TJSL kolaboratif di Raja Ampat dengan melistriki 178 rumah warga pada April 2026. Inisiatif strategis ini merupakan respon atas mandat Kementerian BUMN untuk memperkuat pembangunan di wilayah 3T. Langkah sinergis tersebut terbukti mendongkrak pendapatan BUMDes lokal hingga 87,5 persen.
Sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali menyasar wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) terintegrasi. Sebanyak 15 perusahaan pelat merah yang dipimpin oleh Perum PERURI melakukan intervensi pembangunan di Kampung Mutus dan Kampung Manyaifun, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Aksi korporasi kolektif ini berlangsung pada 22–24 April 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan Kementerian BUMN dalam mengorkestrasi program TJSL agar tidak berjalan sendiri-sendiri (silo). Dengan menggabungkan sumber daya dari berbagai sektor, mulai dari perbankan hingga infrastruktur, dampak pembangunan diklaim lebih terukur dan berkelanjutan. Fokus utama kolaborasi ini mencakup tiga pilar pembangunan, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat pesisir.
Capaian Angka dan Indikator Kinerja
- Elektrifikasi: Pemasangan instalasi listrik di 178 rumah warga dan fasilitas umum.
- Konservasi: Penanaman 2.000 bibit mangrove dan rehabilitasi 225 meter persegi terumbu karang.
- Ekonomi: Peningkatan pendapatan anggota BUMDes sebesar 87,5 persen melalui pendampingan.
- Pendidikan: Renovasi tiga gedung sekolah dan pemberian akses internet serta panel surya.
Fokus Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi
Di Kampung Mutus, konsorsium BUMN melakukan rehabilitasi ekosistem laut dengan menanam 650 fragmen karang. Upaya ini krusial mengingat Raja Ampat merupakan jantung segitiga terumbu karang dunia yang menjadi aset vital pariwisata nasional. Selain aspek konservasi, perusahaan juga memberikan pelatihan dan sertifikasi selam bagi pemuda setempat untuk meningkatkan nilai jual jasa pemanduan wisata.
Intervensi pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi strategi kunci untuk memastikan keberlanjutan ekonomi. Melalui pendampingan manajemen dan akses pasar, pendapatan masyarakat yang tergabung dalam BUMDes dilaporkan melonjak signifikan. Pola ini menunjukkan bahwa kehadiran BUMN tidak hanya memberikan bantuan alat, tetapi juga transfer pengetahuan (knowledge transfer) dalam pengelolaan bisnis skala desa.
Infrastruktur Dasar dan Fasilitas Pendidikan
Kesenjangan akses energi di wilayah timur Indonesia masih menjadi tantangan besar. Dalam program ini, sebanyak 119 rumah di Kampung Mutus dan 59 rumah di Kampung Manyaifun kini resmi teraliri listrik. Fasilitas umum seperti tempat ibadah dan sekolah juga mendapatkan akses serupa, yang diharapkan mampu memperpanjang jam produktivitas warga dan aktivitas belajar siswa pada malam hari.
Sektor pendidikan mendapatkan perhatian khusus melalui bantuan teknologi informasi. SD YPK Effata Mutus, SMPN 11 Raja Ampat, dan SD YPK Imanuel Manyaifun kini dilengkapi dengan perangkat komputer dan akses internet. Penggunaan panel surya di sekolah-sekolah tersebut menjadi solusi energi bersih sekaligus menekan biaya operasional sekolah di wilayah terpencil.
"Kami meyakini bahwa TJSL bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujar Head of Corporate Secretary PERURI, Adi Sunardi.
Adi menegaskan bahwa partisipasi PERURI dalam kolaborasi ini adalah komitmen perusahaan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat (creating shared value). Sinergi ini melibatkan raksasa BUMN seperti PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Angkasa Pura Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
Ke depan, model kolaborasi 15 BUMN ini diproyeksikan menjadi cetak biru (blueprint) bagi implementasi TJSL di wilayah lain. Integrasi antar-sektor diharapkan mampu mengakselerasi target pemerintah dalam pemerataan ekonomi dan pelestarian lingkungan di seluruh pelosok nusantara.