BANDA ACEH — Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry bersama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh resmi menyepakati pembukaan program beasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Program ini dijadwalkan mulai menerima pendaftaran pada Juni 2026 untuk perkuliahan semester ganjil tahun akademik 2026/2027.
Kerja sama ini merupakan respons atas rendahnya kualifikasi akademik tenaga pendidik PAUD di Serambi Mekkah yang berdampak pada kualitas layanan pendidikan dasar. Melalui skema RPL, para guru dapat mengonversi pengalaman kerja dan pelatihan informal mereka menjadi kredit akademik untuk meraih gelar sarjana (S1) dalam waktu lebih singkat.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, mengungkapkan bahwa mayoritas tenaga pendidik PAUD di Aceh saat ini masih mengantongi ijazah sekolah menengah atas. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam memenuhi standar nasional pendidikan yang mewajibkan kualifikasi sarjana bagi guru profesional.
Solusi Kualifikasi Akademik Tanpa Tinggalkan Tugas Mengajar
"Ini bagian dari sinergi UIN Ar-Raniry dalam mendukung program pemerintah Aceh untuk masyarakat, terutama dalam peningkatan kompetensi guru PAUD," ujar Prof. Mujiburrahman usai pertemuan di ruang rapat rektor, Rabu (29/4/2026).
Program beasiswa ini didesain agar guru tidak perlu meninggalkan ruang kelas secara total. Skema pembelajaran fleksibel memungkinkan mereka tetap mengabdi di lembaga masing-masing sambil menempuh pendidikan tinggi selama empat tahun masa program beasiswa.
"Sebagian besar guru PAUD masih lulusan SMA. Melalui RPL, kita berikan kesempatan untuk meningkatkan kualifikasi akademik mereka," kata Mujiburrahman menambahkan. Langkah ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas SDM guru yang selama ini dinilai belum memenuhi standar minimal.
Fokus pada Standar Layanan dan Pencegahan Kekerasan Anak
Selain masalah ijazah, Prof. Mujiburrahman menyoroti keterbatasan infrastruktur dan kualitas pengasuhan yang belum maksimal di berbagai daerah. Peningkatan kapasitas guru dianggap sebagai kunci utama untuk meminimalisir potensi kekerasan terhadap anak yang sering kali dipicu oleh kurangnya pemahaman pedagogik dan psikologi perkembangan.
"Kita berharap komitmen ini dapat membantu pemerintah Aceh dalam meminimalisir kejadian-kejadian kekerasan dalam pengasuhan anak usia dini," tegasnya.
UIN Ar-Raniry berkomitmen menyelaraskan kurikulum mereka dengan kebutuhan riil di lapangan. Hal ini mencakup aspek perlindungan fisik dan psikologis anak agar layanan PAUD di Aceh benar-benar memenuhi standar keamanan dan kenyamanan bagi peserta didik usia emas.
Investasi Pendidikan Usia Dini dan Skema Beasiswa BPSDM
Kepala BPSDM Aceh, Marthunis ST DEA, menegaskan bahwa pemerintah daerah menaruh perhatian serius pada pendidikan usia dini karena memiliki nilai investasi jangka panjang yang tinggi. Menurutnya, kompetensi guru adalah variabel utama yang menentukan keberhasilan pendidikan pada fase krusial pertumbuhan anak.
"Investasi pendidikan dengan tingkat pengembalian tertinggi ada pada usia dini. Karena itu, peningkatan kompetensi guru PAUD menjadi sangat penting," kata Marthunis.
BPSDM Aceh kini tengah mematangkan draf kerja sama dan skema pembiayaan agar program ini tepat sasaran. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah penyesuaian sistem belajar agar lembaga PAUD di desa-desa tidak kekurangan tenaga pengajar saat program beasiswa ini berjalan secara massal.
"Kalau guru harus kuliah secara tatap muka, lembaga PAUD bisa kehilangan tenaga pengajar. Karena itu, skema pembelajaran perlu disesuaikan," jelas Marthunis terkait rencana teknis perkuliahan nantinya.
Proses seleksi peserta beasiswa Bunda PAUD Aceh ini ditargetkan rampung sebelum tahun akademik baru dimulai. Pertemuan koordinasi tersebut juga melibatkan pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry untuk memastikan kesiapan teknis akademik dan administratif bagi para calon penerima manfaat.